PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM TUAN GURU HAJI MUHAMMAD SOLEH CHAMBALI BENGKEL AL- LOMBOKI
Oleh Team www.plasawebs.com
A. Penegasan Judul Posting
Untuk memperjelas apa yang dimaksud dengan Pemikiran Pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al-Lombokimerupakan sebuah keharusan untuk kembali mempertegas judul yang dimaksud dalam penulisan ini
1. Pemikiran
Menurut kamus besar bahasa Indonesia pemikiran adalah: proses, cara, perbuatan memikir, problem yang memerlukan dan pemecahan[2]. Sehingga pemikiran adalah hasil dari sebuah peroses berpikir, merenung, kontemplasi atas berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, bahkan agama sebagai tawaran solusi yang paling benar menurut seseorang dengan tujuan untuk menjawab problematika yang tengah terjadi di suatu tempat dan masa.
2. Pendidikan Islam
Menurut BAB I Ketentuan Umum pasal 1 ayat 1, Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; pendidikan adalah:
Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan susunan belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara[3].
Sedangkan Pendidikan Islam; menurut beberapa orang ahli pendidikan Islam berbeda-beda akan tetapi pada intinya memiliki tujuan yang sama; diantaranya:
a. Sayid Sabiq mendifinisikan: pendidikan Islam dengan mempersiapkan anak baik dari segi jasmani, akal dan rohaninya sehingga dia menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat, baik untuk dirinya maupun umatnya.
b. Athiyah Al Abrosyi: sesungguhnya maksud pendidikan Islam adalah mempersiapkan individu agar ia dapat hidup dengan kehidupan yang sempurna.
c. Anwar Jundi: sesungguhnya yang namanya pendidikan Islam, ialah menumbuhkan manusia dengan pertumbuhan yang terus-menerus sejak ia lahir sampai ia meninggal dunia[4]
Dari definisi Pendidikan dan Pendidikan Islam di atas, yang paling mendekati pemaknaan pendidikan Islam dalam konteks tulisan ini adalah: mempersiapkan anak didik melalui kegiatan terstruktur, terencana secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
3. Tuan Guru
Sebelum melangkah kepada pemahaman makna sebutan Tuan Guru perlu dikemukakan beberapa landasan untuk memahami Tuan Guru di Pulau Lombok. Setidaknya ada dua penelitian yang dapat dijadikan rujukan utama yang akan mengantarkan kepada penjelasan mengenai Tuan Guru itu sendiri.
Pertamapenelitian yang dilakukan oleh Zamakhsyari Dhofier mengenai pembagian dan definisi kiai;
1. Benda atau hewan yang dikeramatkan, seperti kiai Plered (tombak), kiai Naga Wilaga (gamelan perayaan sekaten di Yogyakarta, kiai Rebo dan kiai Wage (gajah dikebun binatang Gembira Loka Yogyakarta).
2. Orang tua pada umumnya.
3. Orang yang memiliki keahlian dalam agama Islam, yang mengajar santri di pondok Pesantren[5].
Kedua hasil penelitian yang ditulis oleh DR. H. Ahmad Abd. Syakur, MA. mengenai menjelaskan pengertian Tuan Guru:
1. Sama halnya dengan Kiai (Tokoh Agama Islam).
2. Orang yang sering diundang dalam acara do’a bersama dalam rangka kenduren berkaitan dengan perkawinan, kenduren dst.
3. Dikalangan Wetu Telu adalah sebutan dari pimpinan agama dikalangan mereka yaitu penghulu yang berfungsi sebagai penghubung antara mereka dengan tuhan.[6]
Sehingga yang dimaksud dengan Tuan Guru dalam konteks pemahaman Kiai adalah tokoh agama Islam yang mengajar di pondok pesantren begitupun sebaliknya.
4. Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel[7] Al- Lomboki
Nama kecilnya memang Muhammad Soleh, ayahnya bernama Hambali bin Gore. Beliau lahir sekitar tahun 1896 M pada hari Senin malam, dari keluarga miskin, yang taat beragama.
Muhammad Soleh remaja mendapat kesempatan belajar agama di pondok pesantren Nurul Qur’an Pagutan Ampenan asuhan Tuan Guru Haji Abdul Hamid.
Kemudian, melanjutkan studi di Makkah selama 9 (sembilan) tahun, ia belajar ilmu agama pada beberapa Ulama Mekkah, baik ilmu fiqih, tafsir, qur’an, tasawuf dan ilmu-ilmu ke Islaman lainnya. Sekembalinya dari tanah suci beliau mendirikan pondok pesantren “Darul Qur’an” Bengkel Lombok Barat.
Kecintaan beliau dalam ilmu pengetahuan pula yang membuatnya mengajarkan ilmu-ilmu agama untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang pernah di pelajarinya[8]. Strategi yang dipergunakan untuk menyampaikan buah pikirannya tergolong luar biasa; di samping mengajarkan ilmu pengetahuan secara langsung (lisan) kepada para muridnya, beliau juga menggunakan media tulis berbahasa Melayu dalam kitab-kitabnya untuk mentransformasikam ide dan ilmu-ilmunya hingga saat ini. Di antara karya-karyanya adalah:
1. Ta’limu al-Shibyan bi Ghayat al-Bayan, (1354 H/1934M) yang berisi tauhid, fiqh dan tasawuf.
2. Mawa’idh al-Shalihiyah, kitab hadits, terjemah dari kitab Mawa’idh al-Ushfuriyah fi al-Ahadits al-Nabawiyah karya Imam al-Ushfuriy, (1364H/1944).
3. Inten Berlian Perhiasan Laki Perempuan, buku fiqh keluarga, (1371H/1951 M).
4. Bintang Perniagaan, berkenaan dengan fiqh mu’amalah, (1376 H/1956 M).
5. Cempaka Mulia Perhiasan Manusia, tentang tasawuf dalam bentuk tulisan tangan (manuskrip), tanpa tahun.
6. Washiyat al-Musthafa, terjemah dari Washiyat al-Musthafa Rasulullah kepada Sayyidina Ali, tulisan tangan, tanpa tahun.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa yang dimaksud dengan “Pemikiran Pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al- Lomboki” adalah: buah pikiran Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al-Lomboki mengenai konsep-konsep, kaidah-kaidah pendidikan Islam yang dikemukakannya melalui karya-karyanya, pengakuan murid-muridnya sebagai solusi terhadap realitas pendidikan yang berkembang pada masa itu.
B. Latar Belakang Masalah
Di setiap zaman ada kejadian fenomenal yang membuat orang terkesan, keheranan penuh kagum. Dalam konteks ini kekaguman tersebut bisa kepada benda, hewan, ataupun orang sehingga disebut sebagai “pusat perhatian/ tokoh”. Dimaksud dengan tokoh oleh penulis disini adalah orang yang mendapat pengakuan secara umum dan luas karena kedalaman ilmu, kesolehan, dan akhlak yang mulia dari masyarakat sekitarnya atau biasa disebut Ulama.
Dalam persfektif al-Qur’an, dengan tidak bermaksud untuk mengotak-atik istilah ulama yang sudah terkesan baku, sebutan bagi orang-orang yang berilmu pengetahuan bermacam-macam yaitu Ulama’, Ulul ‘Ilmi, Ahludzikri, Arrasikhun Fil ‘Ilmi, Ulul-albab. Kata Ulama disebut dua kali dalam al- Qur’an yaitu terdapat dalam surat as Syura 197 dan surat al Faathir 28.[9]
Para ulama memiliki peranan besar memberikan pengajaran kepada seluruh masyarakat di manapun mereka berada, tidak terlepas dengan Indonesia. Di mulai semenjak Islam masuk ke Indonesia abad 7 Masehi[10]kebenaran ini diperkuat dengan lahirnya tokoh Walisongo yan
g menyebarkan Islam keseluruh tanah Jawa.
g menyebarkan Islam keseluruh tanah Jawa.
Sedangkan agama Islam masuk ke pulau Lombok sekitar abad ke 16 disebarkan oleh Sunan Prapen putra Sunan Giri Al Fadhal, Sangupati dan lain-lain. Islam masuk ke Lombok dari dua arah yaitu:
a. Melalui utara (Bayan) yang disebarkan oleh Sunan Penggiring dari Jawa Tengah. Ajarannya yang banyak adalah Sufi yang mengarah kepada singkretisme Hindu-Islam. Karenanya mudah diterima secara sukarela oleh masyarakat yang kemudian golongan ini dikenal dengan Wetu Telu.
b. Dari arah timur (Lombok Timur) yang disebarkan oleh pendatang terutama pelaut-pelaut Makasar dan para pedagang dari Jawa. Sebagaimana diketahui bahwa pusat kerajaan Selaparang Islam semula di Labuhan Lombok sekarang yang kemudian ke bekas ibukota kerajaan Selaparang Hindu yaitu Watu Parang. Dari sini agama Islam oleh raja Rangke Sari disebarkan keseluruh Lombok[11].
Tiga abad kemudian semenjak Islam memasuki Lombok,[12]tepatnya pada abad 19 telah lahir tokoh-tokoh agama terkemuka di pulau ini seperti: Tuan Guru Pejeruk (1870), Tuan Guru Haji Mustafa Sekarbela, Tuan Guru Muhammad Ro’is (Wafat 1867), Tuan Guru Haji Abdul Hamid Pagutan (1827-1934).[13]Sedangkan abad 20 terdapat nama-nama tokoh penyebar agama Islam seperti: TGH. Muhammad Amin, TGH. Asyari, TGH Mukhtar Abdul Malik, TGH Abdul Karim, TGH. Abdul Hamid, TGH. Ibrahim, TGH. Muhammad Soleh Chambali (1896-1968), TG.KH. Zainuddin Abdul Majid, dan masih banyak lagi para tokoh Islam Pulau Lombok. Tokoh-tokoh di atas seluruhnya pernah menimba ilmu di Makkah al Mukkaramah bahkan sebagian di antara mereka telah menjadi pengajar agama Islam di Makkah. Akan tetapi karena pergolakan politik di kota suci Makkah saat itu sehingga mengakibatkan mereka terpaksa harus kembali ke Pulau Lombok Indonesia.
Sekembalinya ke tanah air mereka kemudian mendirikan lembaga-lembaga pendidikan Islam. Di antara sekian banyak ulama Lombok yang terpaksa harus kembali pada awal abad 20 adalah Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al- Lomboki (1896-1968).
Ketokohan beliau sebagai seorang individu dan sebagai ulama pada masa itu tidak diragukan lagi.[14] Hal ini terbukti dengan seringnya mendapat tamu-tamu agung yang menyempatkan diri berkunjung ke kediaman beliau di antaranya: Presiden RI: Ir. Soekarno, Menteri Agama: KH. Saifuddin Zuhri, Menteri Koordinator Keamanan: Jenderal AH. Nasution, Rois ‘Am PBNU: KH. Abd. Wahab Hasbullah, Ketua Umum PBNU: KH. Idham Khalid, Ketua PBNU: H. Subhan ZE, Tokoh NU: Anwar Musaddat, KH. Ma’shum ayah KH. Ali Ma’shum, KH. Hamid Wijaya: Ketua Anshar, Gubernur Pertama NTB: R. Aria Ruslan Cakraningrat dan lainnya.[15]Sehingga tidak terlalu berlebihan apabila Dr. H. Ahmad Abd Syakur menempatkan beliau sebagai agen pengembang akulturasi nilai-nilai Islam melalui Pendidikan Agama Islam Abad 20 di Pulau Lombok.[16]
Kehebatan seseorang sebagai pendidik sebuah lembaga pendidikan dengan struktur sistem pendidikan belum bisa dikatakan sempurna apabila dikemudian hari lembaga dan sistem yang dikembangkannya ternyata output yang dihasilkan tidak mampu berbicara banyak dalam kancah yang lebih besar. Begitu pula sebaliknya, tidak sedikit lembaga pendidikan yang memiliki organisasi kelembagaan yang tidak terlalu rapi, dikatakan hebat, besar serta disegani oleh karena memiliki siswa, mahasiswa yang mampu berbicara banyak di kancah lokal, maupun nasional.
Melihat dari barometer ini maka Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali memiliki apa yang dikemukakan sebagai output (murid) yang mumpuni[17] hal ini dibuktikan dengan keberhasilan para muridnya menjadi tokoh/ pemuka agama dan hampir seluruhnya menjadi Tuan Guru dengan masing-masing lembaga pendidikan yang mereka pimpin. [18]
Merupakan ujian berat bagi setiap orang yang ingin mempertahankan keyakinan sebagai pilihan hidup. Oleh karena itu landasan idiologi sebagai pijakan atas konsep-konsep agama yang diinternalisasikan ke dalam dunia pendidikan merupakan suatu kekuatan mutlak dan wajib dimiliki oleh seorang pengasuh pendidikan agar tetap eksis saat itu.
Tuan Guru Muhammad Soleh Chambali adalah sosok pemikir yang lebih dikenal dengan mengutamakan ubudiah dan tasawuf Al Ghazali yang tidak pernah memikirkan popularitas semata, sehingga tidak mengherankan apabila kitab-kitabnya bercorak tauhid, fiqih, dan tasawuf.
Meskipun demikian, khalayak tidak pernah mendengar gaung beliau sebagai seorang tokoh pemikir pendidikan Islam.[19] Dengan demikian recovery pemikiran pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali yang tertuang, tersebar dalam karya-karyanya kedalam sebuah bangunan utuh merupakan sisi menarik yang harus mampu dikemukakan dalam penulisan skripsi ini.
Di samping masih kurangnya partisipasi penelitian para sarjana pendidikan Islam Indonesia tentang para tokoh pemikir pendidikan Islam lokal. Juga semakin luasnya kemungkinan untuk melakukan studi sejarah tentang tema-tema lokal di luar aspek ekonomi dan politik yang memiliki relevansi dengan kehidupan bangsa Indonesia seperti pemikiran pendidikan Islam.[20]
Kedua hal tersebut di atas (menemukan pemikiran pendidikan Islam dan studi tokoh ke Islaman lokal) yang menyebabkan penulis merasa tertantang melakukan sebuah penelitian tentang “Pemikiran Pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al- Lomboki”.
C. Alasan Pemilihan Judul
Secara singkat setidaknya ada dua hal mendasar yang menyebabkan Pemikiran Pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali urgen untuk ditelaah yaitu:
1. Partisipasi kesarjanaan Indonesia dalam penulisan sejarah lokal masih sangat kurang sehingga perlu mendapat perhatian tersendiri.
2. Masih terbuka kemungkinan memperluas tema-tema penelitian sejarah lokal di luar aspek ekonomi dan politik yang memiliki relevansi dengan kehidupan bangsa Indonesia, seperti masalah pemikiran pendidikan Islam dan pembiayaan pendidikan.
3. Hingga proposal ini ditulis belum ada satupun penelitian yang pernah mengkaji pemikiran pendidikan Islam tokoh ini.
D. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas timbul dua permasalahan yang penting untuk diketahui serta harus dijawab yaitu:
1. Bagaimanakah pemikiran pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali?
2. Apa relevansi pemikiran Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali konteks kekinian?
E. Tujuan dan Kegunaan
Tujuan penelitian ini adalah: mengetahui pemikiran pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel al- Lomboki.
Adapun kegunaannya adalah: menambah khazanah pengetahuan dan kepustakaan tentang pemikiran para tokoh pemikir pendidikan Islam Republik Indonesia serta sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya
F. Tinjauan Pustaka
Tulisan orang yang secara langsung membahas tokoh ini: Drs.L. Shoimun Faisal, MA., Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel al-Anfanani dan Tasawuf al-Ghazali, Laporan Hasil Penelitian STAIN Mataram. Mengenai pengaruh Tasawuf al-Ghozali terhadap corak tasawuf yang dipraktikkan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali.
Oleh karena jarang dan kurangnya penulisan tentang tokoh ini apalagi yang secara langsung mengupas pemikiran pendidikan Islamnya merupakan tantangan tersendiri dan menempatkan tulisan ini sebagai penelitian pertama yang membahas tentang pemikiran Pendidikan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al- Lomboki.
G. Kerangka Teoritik
Menjembatani agar ambiguitas pemahaman atas Pemikiran Pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al- Lomboki tidak terjadi, penulis mengajukan pendapat Moch Eksan: Diskursus tentang pemikiran pendidikan Islam, setidak-tidaknya mencakup delapan hal yaitu[21]:
Pertama, Hakekat Pendidikan Islam: HM. Chabib Thoha mengemukakan bahwa hakekat pendidikan Islam adalah proses pemeliharaan sifat dan potensi insani untuk menumbuhkan kesadaran dalam menemukan kebenaran[22].
Kedua, Tugas dan Fungsi Pendidikan Islam: menurut M. Arifin adalah membimibing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan manusia dari tahap ke tahap kehidupan anak didik sampai mencapai titik kesempurnaan yang optimal, sedangkan fungsi pendidikan Islam adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan yang dimaksud berjalan dengan baik dan lancar[23].
Ketiga, Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam: menurut Ahmad Tafsir terdiri dari: a. pertama, Al- Qur’an sebagai sumber ajaran Islam pertama, b, Hadits sebagai sumber ajaran Islam ke dua, dan c., akal disuruh untuk digunakan oleh Al Qur’an dan Hadits. Sedangkan Tujuan Pendidikan Islam berkaitan dengan tujuan Allah SWT menciptakan manusia dan menurunkannya kemuka bumi. Pertama, manusia diciptakan oleh Allah SWT supaya menjadi Abdullah (Qs. Adz- Dzariyat/ 51: 56), kedua, Allah menurunkan manusia ke muka bumi untuk menjadi khalifah fil ardh (Qs. Al An’am/ 6:165).[24]
Keempat, Komponen Dasar Pelaksanaan Pendidikan Islam: ada tiga komponen dasar pelaksanaan pendidikan Islam a., orang tua b., guru dan c., murid[25].
Kelima, Kurikulum Pendidikan Islam: menurut Prof. Dr. Nana Saodih Sukmadinata, Desain kurikulum klasik disini adalah Subject Sentred Design artinya kurikulum dipusatkan pada isi atau materi yang akan diajarkan. Kurikulum tersusun atas sejumlah mata-mata pelajaran, dan mata-mata pelajaran tersebut diajarkan secara terpisah-pisah.[26]
Keenam, Metode Pendidikan Islam: M. Arifin mengungkapkan bahwa ayat-ayat al Qur’an apabila dikaji secara filosofis, mengandung nilai-nilai metodologis dalam pendidikan, yaitu: a., mendorong manusia berfikir analitik dan sintetik dan sintentik melalui proses berfikir induktif dan deduktif, b., metode perintah dan larangan serta praktik, c., metode motivatif, baik motivasi teogenetik, sosiogenetik maupun motivasi biogenetik, d., metode situasional, dan e., metode instruksional.[27]
Ketujuh, Evaluasi Pendidikan Islam: dalam merancang evaluasi pendidikan Islam ada empat hal yang harus diperhatikan. a, tujuan evaluasi yaiut bertujuan untuk mengetahui keberhasilan siswa, kelebihan dan kekurangan guru dalam mengajar pencapaian target kurikulum, serta untuk mengetahui kontribusi program pendidikan pada masyarakat. b, alat ukur yang digunakan, maksudnya evaluasi itu dirancang dengan memperhatikan kelebihan dan kekurangan alat ukur yang digunakan, baik tes lisan, tes tulis maupun tes tindakan. c., acuan yang dijadikan standar yaitu acuan nilai rata-rata kelas, patokan kurikulum dan nilai etis dan normatif yang berlaku. d., pelaksanaan pengukuran apakah berlangsung secara alami atau justru sebaliknya[28]
Kedelapan, Kelembagaan Pendidikan Islam: Muhaimin dan Abdul Mujib lebih rinci membagi lembaga-lembaga pendidikan Islam pada: a,keluarga, b., Masjid, c., pondok pesantren, d., madrasah, e., masyarakat, termasuk di dalamnya adalah organisasi social kemasyarakatan dan kepemudaan, serta media informasi dan komunikasi, baik berupa media cetak maupun elektronik.[29]
Di sini letak pentingnya telaah kembali sebuah pesan Ahli Ushul dalam kaidahnya (baca: Ushuliyah) demi memahami studi-studi Islam: al Muhafadzatu ‘ala al-Qodiimi as-Shalih wa al- Akhdzu bi al-Jadidi al Ashlah (menjaga peninggalan yang baik dan mengambil penemuan baru yang lebih baik). Kerangka ini sangat menarik untuk memberikan penegasan-evaluasi kemudian menemukan relevansi pemikiran Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel dalam konteks kekinian yang berkaitan langsung dengan berbagai dinamika kehidupan pendidikan Islam saat ini.
Diharapkan dengan pembahasan ini dapat menemukan kembali ruh (nilai) pendidikan Islam yang sesuai dengan nilai-nilai yang diharapkan masyarakat karena tujuan utama dari pendidikan Islam adalah transformasi nilai untuk menjembatani kesenjangan antara pendidikan Islam dengan masyarakat.
H. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah kajian pemikiran tokoh yang menggunakan telaah kepustakaan (Library Research) karena itu panduan utama adalah kitab-kitab yang merupakan karya Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel al- Lomboki. Kajian ini mencoba memberikan gambaran tentang pemikiran seorang tokoh melalui karya-karyanya terutama sekali kitab Ta’limu al- Shibyan bi Gayat al Bayan.
2. Sifat Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif analitik yaitu mengumpulkan atau memaparkan konsep-konsep pendidikan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali serta hubungannya dengan penomena pendidikan masa kini serta menganalisanya dengan menggunakan teori yang telah ada.
3. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam konteks penelitian ini Historis dan Sosiologis yang akan dijelaskan sebagai berikut:
Sosiologis: pendekatan dengan sosiologi digunakan untuk mengetahui setting kondisi masyarakat dan lingkungan sekitar tokoh, kaitan dengan pengaruh ekstrinsik kepenulisan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel dalam karyanya.
4. Sumber Data
a. Data Primer
Kitab-kitab hasil karya tokoh yang langsung membahas persoalan pendidikan Islam: Ta’limu al-Shibyan bi Ghayat al-Bayan (1354 H/1934 M), Inten Berlian Perhiasan Laki Perempuan (1371H/1951 M), Cempaka Mulia, selanjutnya disebut data primer.
b. Data Sekunder &nbs
p;
p;
Data Skunder adalah sumber data kedua atau pendukung berupa tulisan tokoh atau orang lain yang secara tidak langsung membahas pemikiran pendidikan Islam namun berkaitan dengan pembahasan skripsi ini. Diantara karya yang dimaksud adalah Bintang Perniagaan, Perhiasan Manusia, Washiyat al-Musthafa (1376 H/1956 M), Mawa’idh al-Shalihiyah (1364H/1944 M), sedangkan tulisan orang yaitu L. Shoimun Faishol, MA., Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al Ampenani dan Tasawuf Al Ghazali
c. Metode pengumpulan data
Ada dua cara yang dilakukan: pertama, dokumentasi, yaitu pengumpulan sumber data primer dan tulisan orang tentang tokoh ini. Kedua, wawancara langsung tidak terstruktur artinya wawancara bebas dengan beberapa tokoh dengan tidak menggunakan pedoman wawancara tertulis. Wawancara yang dimaskud adalah wawancara dengan keluarga, murid dan tokoh yang berinteraksi langsung dengan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali seperti TGH. L.M. Turmudzi Badruddin (Murid), HM. Wahyudi Ma’ruf (murid dan pengurus GP Anshor se pulau Lombok 1952), Halisussabary (Cucu) sebagai pendukung data yang mengarah pada maksud tulisan ini.
d. Analisis Data
Pisau analisa yang digunakan adalah Content Analysis. Content Analysisberangkat dari aksioma bahwa studi tentang proses isi komunikasi itu merupakan dasar bagi ilmu sosial. Pembentukan dan pengalihan perilaku dan polanya berlangsung lewat komunikasi verbal. Kebudayaan dan pengalihannya di sekolah, di lembaga kerja, di berbagai institusi sosial berlangsung lewat komunikasi. Konflik sosial atau politik yang mungkin berpangkal dari kepentingan yang berbeda sukar dapat dipahami, komunikasi verbal dapat membantunya. Content Analysis merupakan analysis ilmiah tentang isi pesan suatu komunikasi demikian Barcus. Secara teknis content analysis mencakup upaya: 1). Klasifikasi tanda-tanda yang dipakai dalam komunikasi, 2). Menggunakan kriteria sebagai dasar klasifikasi dan 3). Menggunakan analisis tertentu sebagai pembuat prediksi.[30]Untuk mendiskripsikan cara kerja Content Analysis dalam penulisan skripsi ini setidaknya ditempuh beberapa langkah pertama, teks-teks dalam tulisan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel perlu diproses dengan aturan yang telah direncanakan, kedua, teks yang telah diproses secara sistematis; dimasukkan kedalam suatu kategori dari delapan kategori diskursus pemikiran pendidikan Islam Moch. Eksan, ketiga, dalam proses analisa diarahkan menuju jawaban relevansi pemikiran tokoh, keempatproses analisa tersebut berdasarkan pada deskripsi yang telah terlebih dahulu diuraikan.
I. Sistematika Pembahasan
Bagian ini membahas secara global isi tulisan yang akan dibahas. Isi selengkapnya sebagai berikut:
Bab Satu, merupakan pendahuluan, yang menggambarkan tentang penegasan judul, latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teoritik, metode penelitian dan sistematika pembahasan dengan demikian merupakan pengantar skripsi ini.
Bab Dua, pada bab ini akan mendiskripsikan Biografi tokoh yang terangkum dalam pembahasan: Latar belakang sosial- keagamaan, masa kecil dan pendidikan, karya-karya, aktifitas dan perjuangan.
Bab Tiga, yang merupakan pembahasan mengenai Konsep-konsep Pendidikan Islam tokoh; yang merupakan klimaks dari pembahasan tulisan ini. Bab tiga ini merupakan titik kulminasi sebagai jawaban atas pemikiran pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al Lomboki. Pembahasan skripsi ini yang terdiri dari dua sub bab yaitu: a). Pendidikan Islam Diskursus Teoritik yang terdiri: 1. Hakekat Pendidikan Islam, 2.Tugas dan Fungsi Pendidikan, 3. Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam, 4. Komponen Dasar Pendidikan Islam. 5. Kurikulum Pendidikan Islam 6. Metode Pendidikan Islam, 7. Evaluasi Pendidikan Islam 8. Kelembagaan Pendidikan Islam b. Relevansi Pemikiran Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali dalam konteks kekinian.
Bab Empat, yang merupakan bab penutup, berisi kesimpulan dari uraian yang telah dikemukakan dalam penulisan ini. Di samping memuat kesimpulan, bab ini juga memuat saran-saran atas segala kekurangan penulisan ini. Di samping itu bab ini juga dilengkapi dengan daftar pustaka.
BAB II
BIOGRAFI
TUAN GURU HAJI MUHAMMAD SOLEH CHAMBALI
BENGKEL AL-LOMBOKI
A. Latar Belakang Sosial-Keagamaan
Di pulau Lombok kehidupan agama Islam sangat terbengkalai, karena kebanyakan diantara masyarakat Sasak[31] masih memeluk agama Islam yang belum sempurna yang menyerahkan urusan ibadah kepada kiai (pemimpin agama). Setelah abad ke 20 golongan ini memisahkan diri dari golongan Islam dan menamakan dirinya penganut Islam Waktu Telu Selain percaya kepada Allah dan Nabi Muhammad sebagai rasul-Nya mereka masih percaya kepada dewa dan kekuatan gaib yang ditimbulkan oleh roh-roh, dewa yang tertinggi ialah Batara Guru.[32]Kepercayaan yang demikian disebabkan oleh karena agama Islam masuk di Lombok pada abad ke 16 hampir tidak ada pembinaan kontinyu. Apalagi mereka ditinggalkan oleh muballigh yang berasal dari Jawa dalam tingkat awal.
Para kiai yang ditugaskan untuk membina mereka tidak dapat melakukan tugasnya oleh karena tidak mendapat dorongan dan bantuan penguasa yang beragama Hindu (dari Abad ke 17 abad ke 19). Bahkan sebelum pertengahan abad 19 kerajaan Mataram (Karangasem-Bali)[33]pernah melakukan tindakan yang mengakibatkan terhambatnya pembinaan kehidupan agama Islam dan menyebabkan timbulnya penyimpangan dari ajaran yang terdapat di dalam al qur’an dan al hadits. Setelah kekuasaan Mataram Karangasem Lombok ditaklukan kolonial Belanda pada tanggal 5 Juli 1894[34]masyarakat Lombok kemudian dijajah Belanda.
Belanda semakin memperkeruh suasana masyarakat, mereka mendekati kaum bangsawan yang masih mempertahankan adat dan kebiasaan nenek moyang untuk memusuhi para tokoh dan penganjur Islam. Dengan cara melakukan propaganda kepada para bangsawan untuk tidak mau memeluk agama Islam yang mengajarkan persamaan hak, derajat dimata manusia yang membedakan manusia dengan manusia disisi Allah hanyalah ketakwaan. Keadaan itu terus berlanjut hingga kemerdekaan Indonesia.
Urusan ibadah menjadi kewajiban para pemuka agama (kiai) semata dan orang-orang yang bukan kiai tidak melakukan sembahyang dan puasa,[35]melihat kondisi ini beberapa orang ulama Lombok melakukan pertemuan di Ampenan yang membahas bagaimana menanggulangi keterbelakangan masyarakat.
Seorang ulama Arab bernama Ustadz Sayid Abdurrahman al Jufri mengumpulkan para tokoh Islam di Ampenan[36] dan hasil musyawarah saat itu adalah mendirikan lembaga pendidikan. Berdirilah madrasah “Darul Ulum”. Rencana itu selanjutnya terwujud setelah ustadz Sayid Abdurrahman al-Jufri dibantu oleh Sayid Salim al-Jufri dan tenaga-tenaga pengajar lainnya[37].
Madrasah inilah kemudian melahirkan para cerdik pandai tentang ke Islaman di Pulau Lombok. Alumni madrasah Darul Ulum ini kemudian mendirikan pondok pesantren sekaligus madrasah-madrasah baru di sekitar Ampenan.
Kesadaran masyarakat mulai terbangun melalui para ulama dan intelektual muda yang belajar dari berbagai madrasah-madrasah baru. Lahirlah konfrontasi-konfrontasi lokal untuk melawan penjajahan dengan berbagai kecenderungannya. Di antara para tokoh tersebut adalah Tuan Guru Haji Hafidz Kediri, Tuan Guru Haji Abdul Karim kediri, Tuan Guru Zainuddin Abdul Madjid, Tuan Guru Lopan, menggunakan metode perlawanan melalui pendidikan. Sedangkan metode yang dipilih Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali disamping lisan juga melalui tulisan.
Perlawanan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali melalui tulisan terhadap penjajah dapat dilihat seperti yang selalu diungkapkannya dalam Muqaddimah Kitab-kitabnya:
a. Muqadimah Ta’lim Al Shibyan Bighayatu Al Bayan:
Menuntut ilmu itu faridatun, atas yang muslim dan muslimat. Hai anakku yang diharap mulia- Ilmu itu tanda bahagia- karena kelebihannya amatlah nyata- Qur’an dan Hadits telah berkata- Tauhid Fiqih Fardu ‘Ainnya- Demikian pula ilmu tasawufnya –Ketiganya itu pada ini risalah- Akan didapatinya Insya Allah- Salam bapak serta hormat- Merdeka tetap dunia akherat[38].
b. Muqaddimah Bintang Perniagaan pada Kelebihan Berusaha:
Ayyuhai saudaraku yang disayang- Silakan baca ini Bintang – Ibaratnya terang menerang- Sebab diambil daripada gudang- Bagi yang berusaha di daerah- Al Dunia Mazra’atu al Akhirat- Salam Kami dengan Hormat- Merdeka tetap dunia akhirat[39].
c. Muqadimah Washiat al Musthofa Li Aliyi al Murtdha:
Hai Saudaraku yang terhormat- Barang siapa hapadz ini washiat- Ialah yang memuji Allah ahyaat- Lagi Mati di dalam Syahadat- Di bangkitkan Allah pada hari qiamat- Faqih ‘Alim dapat syafaat- Salam sempurna beserta rahmat –Merdeka tetap dunia akhirat[40].
d. Muqadimah Intan Berlian (Perhiasan) laki perempuan:
Wahai anakku laki dan perempuan- Silakan dengar ini pengajaran- Sepertinya intan berlian- Jadi perhiasan laki perempuan-Dipetik dari pada hadits Nabi- Yang diriwayatkan oleh Ali – Dan isterinya bintang gerak- Ialah Fatimah Al Zahra – Silakan pakai malam dan hari- Supaya berselamat berlaki Isteri- Lagi senang mendapat rahmat- Ditambah pula dengan ni’mah- Salam Bapak dengan hormat- Merdeka tetap dunia akherat.[41]
e. Muqadimah Mawa’idzu Al Sholihiyah Fi al Ahadits al Nabawiyah:
Inilah Suatu Pendahuluan- Kehadirat ikhwati- Dicahayakan Allah muka seorang – Mendengar Hadits yang cemerlang –Maka ditunaikan ia kelain orang- Seperti yang di dengarnya dengan terang- Barang siapa menyampaikan kesaudaranya- Empat puluh hadits pada agamanya- Di bangkitkan Allah di hari qiamat – Masuk Syorga bareng pintunya- Pengatur ini (kitab) berkirim salam- Merdeka tetap sempurna dan tamam.[42]
B. Sejarah Singkat Desa Bengkel
Desa Bengkel merupakan salah satu desa dari sepuluh desa yang ada di kecamatan Labuapi Lombok Barat NTB, yang terdiri dari lima dusun yaitu Dusun Bengkel Selatan, Bengkel Utara, Bengkel Timur, Bengkel Barat dan Dusun Datar, bersebelahan dengan bagian timur dari ibu kota Kecamatan.
Kata Bengkel berasal dari nama sebuah pohon besar yang dahulunya di wilayah desa Bengkel ini banyak di tumbuhi oleh pohon-pohon besar yang oleh masyarakat pada waktu itu disebut Pohon Bengken. Lama kelamaan sebutan ini berubah menjadi Bengkel dan di pergunakan sebagai nama desa sampai sekarang ini.
Dari terbentuknya hingga saat ini telah dipimpin oleh lima belas orang Kepala Desa dengan Kepala desa yang pertama bernama Amen Teker (bapak Taker) yang telah memimpin desa Bengkel selama 15 tahun.
Secara geografis desa Bengkel memiliki luas wilayah 4.000 M dengan batas –batas sebagai berikut: Sebelah Utara: Kelurahan Babakan, Sebelah Timur: Desa Merembu, Sebelah Selatan: Desa Kediri. Sebelah Barat: Kelurahan Dasan Cermen. Dengan ketinggian dari permukaan laut: 220, banyaknya curah hujan: 2000-2500mm/ tahun, topografi, dataran rendah dengan jumlah penduduk sebanyak: 7.268 seluruhnya merupakan pemeluk agama Islam.[43]
C. Masa kecil dan Pendidikan TGH. Muhammad Soleh Chambali
Muhammad Soleh Chambali Bengkel dilahirkan dari keluarga miskin yang taat beragama; nama kecilnya memang Muhammad Soleh, ayahnya bernama Chambali bin Gore. Beliau lahir sekitar tahun 1313 H (1896 M)[44] pada tanggal tujuh malam Sabtu waktu Isya’ pada bulan Puasa dan meninggal pada hari kamis tanggal 08 November 1968 M. Nama Muhammad Soleh diberikan oleh seorang alim bernama Haji Ali pada hari Senin[45].
Saat ia masih berumur enam bulan di dalam kandungan, bapaknya meninggal dunia sehingga ia diasuh oleh ibunya, melihat keadaan ekonomi keluarganya yang menyedihkan (miskin), sehingga salah seorang pamannya yang bernama bapak Rajab[46] memberi biaya kehidupan walaupun tetap dalam pangkuan ibunya.
Setelah enam bulan kelahirannya, ibu Muhammad Soleh meninggal dunia. Sehingga jadilah ia sebagai yatim piatu. Sepeninggal ibunya ia diasuh langsung oleh pamannya, bapak Rajab dan isterinya serta menjadikan Muhammad Soleh anak angkat, beliau dirawat, dibesarkan diberi pendidikan setelah Bapak Rajab naik haji lalu berganti nama menjadi Haji Abdullah[47]. Penderitaan hidup Muhammad Soleh Chambali Kecil boleh dikatakan sedikit berkurang setidak-tidaknya beliau memiliki pengasuh dari dua orang keluarga yang baik hati dan cukup kaya dan rela memperjuangkan, membesarkannya. Atas perjuangan Haji Abdullah dan isterinya pula Muhammad Soleh yang di kemudian hari dikenal sebagai seorang tokoh penulis. Ia dikenal dengan nama lengkap Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al Ampenani menjadi salah seorang tokoh yang sangat di kagumi di seluruh Negeri (Lombok) terutama di kalangan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (Lombok) abad 20.
Pada umur tujuh tahun Muhammad Soleh Chambali kecil kemudian di serahkan untuk belajar mengaji al Qur’an al Karim oleh bapak angkatnya kepada seorang guru ahli tajwid bernama bapak Ramli guru Sumbawa,[48]setelah itu Soleh Chambali kemudian melanjutkan pendidikannya ke pesantren Nurul Qur’an Pagutan di bawah asuhan Tuan Guru Haji Abdul Hamid Ampenan.
Ketika Muhammad Soleh Chambali berumur dua belas tahun ia dibawa ke Makkah oleh kedua orang tua angkatnya naik haji setelah beberapa saat menetap di Makkah ibunya meninggal dunia pada tahun 1325 H tepatnya pada bulan haji tanggal enam pada tahun itu. Sepeninggal ibu angkatnya Muhammad Soleh menetap di maulid nabi Muhammad Saw kemud
ian di maulid Ali RA selama sembilan tahun kurang sedikit untuk menuntut ilmu agama pada berapa orang Ulama, baik itu ilmu Fiqh, Tafsir, Tasawuf dan cabang-cabang ilmu agama lainnya.[49]Ia kembali ke Lombok (Indonesia) pada pertengahan bulan puasa pada permulaan perang di Makkah[50]
ian di maulid Ali RA selama sembilan tahun kurang sedikit untuk menuntut ilmu agama pada berapa orang Ulama, baik itu ilmu Fiqh, Tafsir, Tasawuf dan cabang-cabang ilmu agama lainnya.[49]Ia kembali ke Lombok (Indonesia) pada pertengahan bulan puasa pada permulaan perang di Makkah[50]
D. Guru-Guru
Selama belajar di kota suci Makkah Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al- Lomboki belajar ilmu agama kepada para syeikh yang faqih di bidangnya masing-masing, di antaranya adalah:
1. Al ‘Alim al ‘Allamah, al Hafidz: Syeikh Muhammad Arsyad bin Tuan Guru Umar Sumbawa
2. Tuan Guru Umar Sumbawa
3. Tuan Guru Umar Kelayu Lombok Timur
4. Tuan Guru Usman Serawak
5. Tuan Guru Mukhtar Jakarta Bogor
6. Tuan Guru Sulaim Cianjur
7. Tuan Guru Abdul Hamid Pagutan Lombok
8. Tuan Guru Haji Abdul Ghani Jimbrana
9. Tuan Guru Abdul Rahman Jimbrana
10. Tuan Guru Haji Usman Pontianak
11. Tuan Guru Haji Asy’ary Sekarbele Lombok
12. Tuan Guru Haji Yahya Jerowaru Lombok
13. Syeikh Sa’id Al Yamani
14. Syeikh Sholeh Bafadhal
15. Syeikh Ali Maliki al Makky beserta mendapat ijazah ilmu dan silsilah guru-guru yang mutashil sampai Rasulallah Saw.
16. Syeikh Hamdan Hindi
17. Syeikh Said al Khudori Makky.
Adapun guru al Qur’an Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel al Lomboki secara keseluruhan penghafal Qur’an:
1. Tuan Guru Haji Muhammad Arsyad Sumbawa (sebagaimana telah disebut di atas)
2. Tuan Guru Haji Amin Pejeruk Ampenan Lombok
3. Syeikh Misbah Banten
4. Syeikh Abdullah Sanggura
5. Syeikh Ali Umairah al Fayumi al Mishri[51]
Sedangkan guru Thariqat dan Talqin Zikir Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel antara lain:
1. Tuan Guru Haji Amin Pejeruk Ampenan Lombok
2. Tuan Guru Haji Mukhtar Jakarta di Makkah dan
3. Syeikh Hasan al Yamani
Di antara kitab yang pernah dipelajari Muhammad Soleh antara lain: kitab-kitab karya Imam al Ghazali seperti: Minhaj al Abidin, Bidyah al Hidayah dan Ihya’ Ulumuddin ditambah lagi dengan Kifayat al Atqiya karangan Sayid Abu Bakar bin Muhammad Syata Al- Dimyathi, yang merupakan syarah dari Hidayah al Atqiya’ ila Thariqil Awliya’ karangan Zainuddin al Malibari, kemudian kitab Hidayat al Salikin dan Sya’ir al Salikin karya Syeikh Abd. al Shamad al Palimbani yang memakai bahasa Melayu.[52]
E. Karya-Karya
Manifestasi keilmuan sosok ini lebih dari sekedar hanya penyerap kemudian diendapkan dalam kepala, melainkan berusaha ditransformasikan kedalam pribadi, tingkah laku dan tidak lupa beliau melakukannya melalui tulisan:
1. Ta’limu al-Shibyan bi Ghayat al-Bayan, (1354 H/1934 M) yang berisi tauhid, fiqh dan tasawuf; yang ditulis tahun 1354 H, dicetak di Surabaya.
2. Mawa’idh al-Shalihiyah, kitab hadits, terjemah dari kitab Mawa’idh al-Ushfuriyah fi al-Ahadits al-Nabawiyah karya Imam al-Ushfuriy, (1364H/1944) ditulis tahun 1364 H, diterbitkan di Surabaya.
3. Inten Berlian Perhiasan Laki Perempuan, berisi fiqh keluarga, (1371H/1951 M) diterbitkan di Surabaya.
4. Bintang Perniagaan, berisi fiqh, (1376 H/1956 M) dicetak oleh Yayasan Perguruan Darul Qur’an Bengkel.
5. Cempaka Mulia Perhiasan Manusia, berisi tasawuf (akhlaq) dalam bentuk tulisan tangan, tanpa tahun.
6. Washiyat al-Musthafa, terjemah dari Washiyat al-Musthafa Rasulullah kepada Sayyidina Ali, tulisan tangan, tanpa tahun.
F. Kiprah dan Perjuangan
Sekembalinya dari Makkah (tahun 1334 H/1913 M) Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali mendirikan pondok Pesantren Darul Qur’an (pada tahun 1915 M/1335 H) sebagai wahana pendidikan.[53] Beliau memulai mengajar dengan melakukan pengajian-pengajian bersifat halaqah[54]; pengajian-pengajian yang didirikan pada tahun pertama bukan tidak mendapat halangan dari masyarakat Bengkel sendiri sebagaimana diceritakan oleh kepala desa Bengkel Bapak Halissusabary (cucu) tentang Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali:.
Syahdan, menurut cerita yang saya dengar dari orang tua dahulu, ketika ninik (Kakek) mulai mengajar ilmu agama di Masjid (Masjid Bengkel) maka tiba-tiba terdengar suara musik gamelan dan sabung ayam untuk menyaingi pengajian yang diselenggarakan oleh ninik. Sampai suatu ketika ninik berdo’a kepada Allah dari dalam masjid. Tiba-tiba terjadi angin ribut dan kebakaran hebat yang hanya terjadi di arena gamelan dan sabung ayam tersebut, yang mengakibatkan kacau balaunya pagelaran gamelan dan sabung ayam, mereka selanjutnya berlarian masuk ke masjid dan setelah mereka memasuki masjid api tersebut menghilang sirna[55]
Sejak saat itu masyarakat Bengkel mulai ikut mengaji dan mempelajari agama Islam, proses pembelajaran masyarakat Bengkel kemudian tersebar luas di kalangan masyarakat luar Desa Bengkel dan Lombok pada umumnya. Dari hari-ke hari masyarakat kemudian mulai datang berbondong- berbondong untuk mempelajari ilmu agama Islam ke Desa Bengkel sampai akhirnya terbentuklah pondok pesantren Darul Qur’an.
Di samping kesuksesan beliau membina pondok pesantren dan masyarakat dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya, beliau juga merupakan tokoh sentral NU (Nahdlatul Ulama) Nusa Tenggara Barat. Beliau adalah Ro
is Syuriah dan penggerak Partai NU semenjak menjadi Partai Politik pada tahun 1952.[56]Kecintaan beliau terhadap Jamiyah Nahdlatul Ulama tercermin ketika beliau memfatwakan kepada jamaah pengajian dan kepada seluruh murid yang mengaji kepadanya, memilih Partai Nahdlatul Ulama hukumnya Fardhu Aridhi.[57]
is Syuriah dan penggerak Partai NU semenjak menjadi Partai Politik pada tahun 1952.[56]Kecintaan beliau terhadap Jamiyah Nahdlatul Ulama tercermin ketika beliau memfatwakan kepada jamaah pengajian dan kepada seluruh murid yang mengaji kepadanya, memilih Partai Nahdlatul Ulama hukumnya Fardhu Aridhi.[57]
Kegiatan pengajaran yang dilakukan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali sangat padat sehingga untuk menghadiri sebuah acara beliau harus menggunakan kendaraan Dokar (kereta pedati yang ditarik kuda). Dalam hal ibadah beliau sangat luar biasa, baik shalat sunnah maupun zikir dan amalan-amalan sunnah yang lainnya. Khusus pada bulan Ramadhan beliau selalu I’tikaf, terlebih pada akhir-akhir Ramadhan penghambaan kepada sang khaliq semakin diintensifkan sampai-sampai tidak seorang pun yang boleh mengganggu. Sedang di luar bulan Ramadhan beliau berkhalwat di rumah, sambil menulis, mengarang serta melayani orang banyak yang waktunya telah diatur.[58]
Ketakwaan beliau kepada Allah merupakan muara dari karamah dan keistimewaan yang menjadikan beliau sering disebut sebagai Waliyullah. Dengan demikian tidak mengherankan apabila kemudian murid-murid beliau juga dari jenis Jin namun para Jin tersebut tidak diperalat untuk kepentingan tertentu sebagaimana yang seringkali dipraktikkan oleh para normal dan ahli nujum, para jin tersebut hanya mengaji kepada beliau.[59]
Pengabdian Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali kepada pendidikan sangat tinggi sehingga Dr. Abdul Syakur, MA., menempatkan beliau ke dalam golongan Ulama pembaharu Pendidikan Islam melalui nilai-nilai Kultural.[60]
Pengajaran yang disampaikan seluruhnya disandarkan kepada paham Ahlu Sunnah wal Jama’ah serta menganjurkan bahkan mewashiatkan kepada seluruh muridnya untuk selalu belajar meningkatkan pengetahuan kepada para guru-guru Ahlussunah wal Jama’ah. Untuk selengkapnya washiat Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel berbunyi:
Assalamu’alaikum Wr.wb.
Alhamdulillahirabbil ‘alamiin wa as sholatu wa as salam ‘ala asyrofi al mursaliin wa ‘ala alihi wa sohbihi ajma’in amma ba’du. Syukur alhamdulillah saya ucapkan kepada Allah subhanahu wata’ala bahwa pertemuan ini dapat kita langsungkan pada hari ini, barangkali inilah pertemuan yang terakhir antara saya dan kamu sekalian; oleh Karena itu saya amanatkan sebagai berikut:
1. Amalkan segala pelajaran dan pengetahuan yang kamu peroleh dari saya dan usahakan agar pengetahuanmu bertambah dengan menuntut ilmu pada Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.
2. Selain dari itu saya amanatkan padamu semua agar dipelihara terus perguruan Darul Quran dan usahakan supaya berkembang menjadi besar.
3. Peliharalah dan pertinggikan paham Ahlusunnah wal Jamaah dan jagalah persatuan dan kesatuan antaramu semua.
Inilah amanat saya padamu dan peliharalah baik-baik, dalil yang pertama sampai ketiga: 1. Man Amila Bima Alima Allamahullahul Ilma Maa Lam Ya’lam (al hadits). 2 sabda Nabi: Idza Mata Ibnu Adam, Inqoto’a Amaluhu Illa Min Tsalatsin: Shodaqotun Jariyatun, Wa Ilmun Yan Tafa’u Bihi, Wa Waladin Sholihin Yad’u lahu, Ba’da Mautahu. 3. Qolalallahu: Wa’tashimu Bihablillahi Jami’an Walaa Tafarraqu.[61]
G. Yayasan Perguruan Darul Qur’an
1. Sejarah singkat Yayasan Perguruan Darul Qur’an
Darul Qur’an sebenarnya didirikan sekitar tahun 1915 M bertepatan dengan 1335 H, seiring dengan perubahan zaman pondok pesantren Darul Qur’an berubah nama menjadi Yayasan Perguruan Darul Qur’an pada tahun 1961. Tujuan pendirian Yayasan Perguruan Darul Qur’an disebutkan sebagai berikut: memelihara, melanjutkan, menyempurnakan perguruan yang telah ada serta yang telah didirikan (dibina) Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali untuk mencetak putra-putrinya agar kelak menjadi manusia yang bersusila, cukup dalam pengetahuan agama Islam ala Madzhabil Arba’ah dan luas dalam pengetahuan umum.
Pondok pesantren sebagai peletak dasar pendidikan Islam di zaman dahulu merupakan sebuah tempat penggemblengan para santri. Pondok pesantren setidaknya memiliki lima elemen penunjang yang harus ada yaitu:
a. Pondok sebagai asrama santri.Pesantren Darul Qur’an sendiri saat itu dibagi menjadi lima asrama yaitu; Asrama Syamsul Huda, Asrama Qomarul Huda, Asrama Badrul Huda dan Asrama Najmul Huda[62] ditambah sebuah asrama putri yang bernama Asrama Intan Berlian, Kelima asrama santri ini dibuat semacam penampungan bagi para santri yang berasal dari daerah lain. Jadi, penempatan santri pun dilihat dari daerah asalnya.
1. Asrama Syamsul Huda dikhususkan untuk santri yang berasal dari Bengkel sendiri.
2. Asrama Qomarul Huda adalah asrama santri campuran asal Bali dan Lombok
3. Asrama Badrul Huda dikhususkan bagi santri yang berasal dari Lombok Timur
4. Asrama Najmul Huda untuk menampung para santri yang berasal dari Lombok Selatan.
5. Dan sebuah Asrama Putri yang bernama “Intan” yang berada disekitar kediaman beliau.
b. Masjid Soleh Chambali sebagai sentral peribadatan. Masjid yang diperguanakan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali adalah masjid yang kini terletak di perempatan desa Bengkel, masjid ini boleh dikatakan sebagai sentral segala kegiatan bagi pondok pesantren maupun masyarakat setempat. Di sebelah utara masjid terdapat dua madrasah kembar yaitu madrasah Darul Quran dan satunya lagi madrasah Darul Hadits,[63] sebelah selatan dan barat masjid adalah asrama putra sedangkan asrama putri terletak disekitar rumah Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali sebelah timur masjid tersebut.
c. Kitab-kitab klasik, sebagai sumber utama pengajaran. kitab-kitab yang dipelajari saat itu adalah: Fath al Qarib karya Syeikh Muhammad Ibnu Qasim al Ghazali; Fath al Mui’n karya Zainuddin Abdul Aziz; Fath al Wahhab karya Abi Yahya Zakaria Al Anshori; Kifayatul Akhyar karya Taqiuddin Abu Bakar bin Muhammad Al ‘Asyim; Al Jurmiyah karya Ahmad Zein Dahlan; Al Fiyah Ibnu Aqil karya karya Jamaluddin Muhammad ibnu Abdillah, Ta’lim al Muta’allim Karya Ibrahim bin Ismail Az Zarnudji; Riyadhu al Sholihin karya Abu Zakaria Yahya An Nawawi; Al Arba’in An Nawawi karya Imam An Nawawi; Bulugh al Maram karya Ibnu Hajar al ‘Atsqalani; Akhlaq lil Banin karya Ustadz Imam Baradja; Nahwu al Wadhih karya Ali Jarimy dan Musthafa Amin; Qirat al Rasyidah; Al Iqna’[64]. Kitab-kitab karya TGH. Muhammad Soleh Chambali sendiri antara lain: Ta’lim al Shibyan– Bighayat al Bayan, Bintang Perniagaan pada kelebihan berusaha, Cempaka Mulia, Intan Berlian Perhiasan bagi Laki-Perempuan, Washiat al Musthafa li Ali al Murthadha, Mawa’idzzu al Sholihiyah[65].
Walaupun telah tersebut sejumlah nama-nama kitab al Mu’tabarah di atas tadi namun penulis belum mampu mengklasifikasikan kitab-kitab mana saja yang diajarkan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali pada sejumlah lembaga pendidikan (Madrasah rendah dan lanjutan, Pengajian-pengajian, Taman kanak-kanak yang berdiri di Yayasan Perguruan Darul Qur’an.[66]
d. Santri sebagai peserta didik, dan kiai sebagai pimpinan dan pengajar di pesantren. [67]
2.. Tujuan Pendidikan Yayasan Perguruan Darul Qur’an
Untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah disebutkan di atas Yayasan Perguruan Darul Qur’an membuka beberapa lembaga mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai sekolah lanjutan. Adapun lembaga-lembaga yang dibuka antara lain:
a. Membuka madrasah-madrasah/ sekolah-sekolah rendah dan lanjutan.
b. Membuka kursus-kursus pengetahuan agama dan umum
c. Membuka pengajian-pengajian
d. Membuka taman kanak-kanak
e. Membuka taman perpustakaan
f. Membuka taman pembacaan
g. Membangun gedung-gedung/ asrama-asrama serta perlengkapannya.
h. Memberi bantuan kepada pelajar-pelajarnya yang cerdas dan tak mampu untuk melanjutkan keperguruan yang lebih tinggi.[68]
3. Kekayaan Perguruan Darul Qur’an
Kekayaan Yayasan Perguruan Darul Qur’an yang tertulis berdasarkan pada dokumen akte notaris tahun 1961, antara lain sebagai berikut:
a. Kekayaan pertama Yayasan ini diperoleh dari kekayaan Perguruan Darul Qur’an di Bengkel yang diserahkan kepada yayasan ini, yaitu terdiri dari:
b. 2 (dua) buah gedung Madrasah 12 (duabelas lokal dengan tanah pekarangannya, terletak di Bengkel.
c. Sebuah gedung Kantor memakai 6 (enam) ruangan dengan tanah pekarangannya, terletak di Bengkel.
d. Sebuah rumah guru dengan tanah pekarangannya, terletak di Bengkel.
e. Sebidang tanah sawah, seluas 0, 75 ha (tujuh puluh lima are), terletak di Subak Bengkel, desa Bengkel, distrik Ampenan Barat. Tanah sawah 0,115 ha (Seratus Lima Belas Are.
f. 12 (duabelas) asrama pelajar dengan tanah pekarangannya terletak di Bengkel
g. Barang infentaris madrasah dan kantor, terdiri dari:
150 (seratus limapuluh) stel meja dan bangku murid, 20 (dua puluh) stel meja guru, 3 (tiga) stel meja tulis, 2 (dua) buah almari, 1 (satu) stel meja tamu, 2 (dua) buah mesin tulis. Dan selanjutnya kekayaan yayasan ini diperoleh dari:
a. Zakat dan Wakaf
b. Sumbangan dari anggota donatur
c. Sumbangan dari pemerintah
d. Usaha-usaha lain yang sah
h. Susunan Pengurus Pertama Yayasan Perguruan Darul Qur’an Bengkel.
1. Ketua : Ustadz Mahduddin
2. Setia Usaha : Ustadz Abdul Ghafur Rawiy
3. Bendahara : Haji Muzaki
4. Pembantu-pembantu : Muhammad Asmak, Muhammad Yusuf,
BAB III
KONSEP PENDIDIKAN ISLAM
TUAN GURU HAJI MUHAMMAD SOLEH CHAMBALI
BENGKEL AL-LOMBOKI
A. Pendidikan Islam Diskursus Teoritik
Yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah buah pikiran Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al-Lomboki mengenai konsep-konsep, kaidah-kaidah pendidikan Islam yang dikemukakannya melalui sejumlah karyanya.
1. Hakekat Pendidikan Islam
Pendidikan Islam bertujuan untuk memberikan penyadaran kepada peserta didik akan dirinya sebagai seorang hamba (khalifah) yang mengerti akan kelebihan yang diberikan kepadanya; dengan demikian diharapakan setelah memperoleh pendidikan peserta didik sampai pada tujuan akhir dari seluruh aktifitas umat manusia yaitu takwa. Hal ini pula yang seharusnya memberi kesadaran penuh kepada peserta didik untuk mengerti apa saja yang memberinya jalan terang.
Seiring berubahnya zaman pemikiran dan orientasi manusia pun ikut berubah.[69] Dibarengi dengan tujuan-tujuan singkat keduniawian yang menganggap pendidikan sebagai sebuah investasi masa depan untuk meraih kehidupan dunia yang lebih baik, kemudian mengedepankan hasil dari pada proses panjang yang seharusnya dilalui.[70] Dengan demikian tujuan yang dicapai bukan buah instant yang hanya mampu bertahan sesaat tetapi pandangan dasar yang terbersit dalam angan manusia itu kemudian akan menggerakkan seluruh manifestasi serta gerak langkahnya.
Pandangan tersebut tidak luput mempengaruhi pendidikan Islam, sehingga terjadi kekeliruan yang akhirnya menyebabkan seorang hamba lupa tujuan akhiratnya. Disini letak pentingnya sebuah proses dan sebuah proses itu harus dimulai dengan niat. Mengenai pentingnya niat Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel mengingatkan kembali janji manusia terhadap Allah semasa di dalam rahim ibu. Allah berfirman di dalam Al- Qur’an Surat Al-A’raf ayat 172 sebagai berikut: