Dipentaskan pada Ramadhan 1419 H (19 desember 1998) di Auditorium IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sutradara oleh Edeng Syamsul Ma’arif, penata gerak Brojo Seno Adjie, penyusun naskah dan penata musik Faaizi L. Kaelan. sebagai pengadaptasi dan pengaransement musik pada pementasan ini.
Tanggal 26 April 2002 dipentaskan di Auditorium Universitas 17 Agustus Cirebon pada acara Muhibah Seni atas undangan Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus dan Dewan Kesenian Cirebon.
Pementasan dilaksanakan pada Ramadhan 1421 H (10 Desember 2000) , bertempat di Auditorium IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penyusun naskah dan sutradara Solichul Hadi.
Pementasan dilaksanakan pada Ramadhan 1422 H (5 Desember 2001) di Auditorium IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pengadaptasi naskah dan Sutradara Zuhdi Siswanto.
Tanggal 9 Desember 2001 dipentaskan di Auditorium STIE Kerjasama Yogyakarta dalam acara Ramadhan di Kampus atas undangan Teater GEMA STIE Kerjasama Yogyakarta.
Sedangkan dalam skripsi ini penulis mengkonsentrasikan pada pesan apa saja yang terkandung dalam pementasan tadarus puisi. Ketiga pementasan tersebut, penulis melihat kesamaan dalam inti dari sebuah pesan religius dari perjalanan seorang dalam mencari dan mengenal Tuhannya untuk kembali melihat eksistensi diri sebagai hamba yang diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang sempurna.
Dari keinginan yang kuat untuk mengetahui pesan religi yang terkandung dalam sebuah pementasan tadarus puisi yang diselenggarakan oleh Teater Eska.
Berdasarkan deskripsi di atas, dapat dirumuskan beberapa masalah yang berhubungan dengan penelitian dan penyusunan skripsi ini, yaitu:
§ Untuk menggali dan menguraikan muatan dakwah yang terdapat dalam Pementasan Tadarus Puisi.
Melengkapi khazanah pengetahuan Ilmu Dakwah secara akademis.
Menjadi sumbangan secara tertulis bagi para da’i ataupun calon da’i dalam pengembangan kualitas keilmuan.
Mejadi acuan bagi lembaga lain yang akan mengembangkan dakwah melalui pementasan.
Pelurusan sejarah kebaradaan Teater ESKA, baik di dunia kesenian maupun kontribusinya terhadap dakwah Islamiyah.
1). Menemukan nada dasar yang tepat untuk pementasan,
2). Menentukan casting,
3). Menentukan teknis dan tata rias,
4). Menyusun mise en scene, segala perubahan yang tejadi pada daerah permainan yang disebabkan oleh perpindahan pemain atau setting,
5). Menguatkan dan melemahkan naskah yang dipentaskan,
6). Menciptakan aspek-aspek laku,
1.) Perancangan; panggung diterjemahkan dari naskah ke konsep kerja panggung, yaitu diwujudkan melalui ruang, waktu, karakter dan warna panggung oleh sutradara.
2.) Pelatihan; merupakan tanggung jawab sutradara untuk melihat bahwa pemanggungan diterjemahkan melalui audio visual, suara dan tubuh aktor, serta perancangan kostum dan skenario.
3.) Pemanggungan; penulis, pengedit, penterjemah naskah, sutradara dan perancang menyaksikan bersama jalannya pemanggungan, sementara manager panggung dan teknisi membantu aktor menghadirkan pertunjukan kehadapan penonton.
4.) Pemberitaan; publikasi dan promosi menentukan keberhasilan atau kegagalan menjaring penonton. Untuk itu diperlukan tim kerja produksi pemberitaan yang kompak dan tepat. Tugas tim adalah memilih media-media promosi, dan menentukan golongan penonton dengan kecenderungan selera tertentu yang diharapkan menghadiri pementasan.
Syeikh Ali Makhfuz dalam kitabnya ‘Hidayatul Mursyidin’ memberikan definisi dakwah sebagai berikut:
حث للنّاس على الخير والهدى والامر بالمعروف والنهي عن المنكر ليفوذوا بسعادة العاجل الاجل
Andy Dermawan memberikan pembagian terhadap definisi dakwah Islam dengan dakwah normatif dan dakwah historis.
1. Suatu usaha atau aktivitas yang dilakukan dengan sadar dan sengaja.
a. Mengajak orang untuk beriman dan mentaati Allah SWT, atau memeluk agama Islam,
c. nahi munkar, mencegah terhadap kemunkaran.
Prinsip-prinsip dasar Dakwah Islamiyah tidak bisa dilepaskan dari al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber dari segala sumber hukum dalam agama Islam. Firman Allah SWT. dalam surah Ali Imran ayat 104 :
ولتكن منكم امة يدعون الى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر واولئك هم المفلحون (ال عمران : 104)
Hadits Nabi Saw. dari Abi Said al-Khuduriy ra. yang berbunyi:
من رأى منكم منكرا فليغيره بيده وان لم يستطع فبلسانه فان لم يستطع فبقلبه وذلك اضعف الايمان
Dari ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi tersebut dapat dimengerti bahwa tugas keda’ian merupakan kewajiban bagi setiap orang muslim, sesuai dengan propesi dan kapasitas masing-masing.
Sementara itu tujuan dakwah dapat dibagi dua, berkaitan dengan aspek obyek dan materi dakwah.
4. Tujuan umat manusia, terciptanya masyarakat dunia yang penuh dengan kedamaian, ketenangan serta tegaknya keadilan tanpa adanya diskriminasi dan eksploitasi.
1). Pondasi teologis yang kokoh,
2). Berkepribadian yang kuat,
3). Berakhlak mulia,
4). Berpengetahuan luas,
5). Memiliki semangat jihad yang tinggi,
Slamet Muhaimin Abda membedakan sifat manusia sebagai obyek dakwah secara Psykologis dan sosiologis.
1. Nilai yang dianut, kepercayaan, agama, tradisi dan sebagainya.
2. Adat dan tradisi, yaitu kebiasaan yang turun-temurun.
1. Aqidah.
2. Akhlak.
3. Ahkam.
4. Ukhuwah.
6. Budaya.
7. Pendidikan.
8. Kemasyarakatan.
9. Amar ma’ruf
4. Metode dakwah
Metode dalam berdakwah adalah menyangkut bagaimana dakwah itu sebaiknya dilaksanakan. Dalam hal ini Allah SWT. sebenarnya telah memberikan petunjuknya dalam al-Qur’an. Seperti yang terdapat dalam surah an-Nahl ayat 125 yang berbunyi:
ادع الى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتى هي احسن (النهل : 125)
“
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”74)
Mempertimbangkan ruang lingkup dakwah yang meliputi segala aspek kehidupan manusia, sesuai dengan ayat diatas, maka metode dakwah dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu hikmah, nasehat yang baik dan mujadalah. Dimana dalam mengajak (dakwah) orang kepada suatu kebenaran haruslah mempertimbangkan kondisi obyektif dari orang atau masyarakat yang menjadi obyek dakwah.
75)
Perkataan
hikmah biasa diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan bijaksana atau kebijaksanaan. Syeikh Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-Manar mendefinisikan
hikmah dengan “memahamkan rahasia dan faedah dari tiap-tiap sesuatu, juga sebagai ilmu yang shahih (benar dan sehat) yang mengarahkan kemauan untuk melakukan sesuatu perbuatan yang bermanfaat.”
76)
Dakwah bil hikmah adalah dakwah yang dilakukan dengan terlebih dahulu memahami secara mendalam segala sesuatu yang berhubungan dengan proses dakwah, yang meliputi persoalan sasaran dakwah, tindakan-tindakan yang akan dilakukan, masyarakat yang menjadi obyek dakwah, situasi tempat dan waktu dimana dakwah akan melaksanakan dan sebagainya.
77)
Menurut A. Ali Mukti
dakwah bil hikmah adalah kesanggupan da’i atau muballigh untuk menyiarkan ajaran Islam dengan mengingat waktu dan tempat, dan masyarakat yang dihadapinya.
78)
5. Media dakwah
Pelaksanaan aktivitas dakwah senantiasa menyesuaikan kondisi dan situasi yang semakin mengarah kepada perubahan yang lebih maju, maka dituntut efesiensi dan efektivitas menyesuaikan secara kontekstual, kondisional, sarana dan prasarana dengan instrumen yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kegiatan dakwah. Instrumen-instrumen tersebut dapat dijadikan alat penghubung dakwah, meliputi instrumen yang bersifat auditif maupun audio visual.
79)
Sementara itu A. Hasjmy dalam bukunya ‘Dustur Dakwah Menurut al-Qur’an’ menjabarkan media dakwah sebagai berikut:
1. Mimbar dan khitabah, majelis taklim.
2. Qalam dan kitabah, tulis menulis dalam media cetak.
3. Masrah dan malhamah, pementasan dan penoramaan.
4. Seni suara dan seni bahasa, lagu dan syair.
5. Madrasah dan dayah, lembaga pendidikan.
6. Lingkungan kerja dan usaha.
80)
Tinjauan tentang Sastra
Pada mulanya puisi difahami sebagai susunan kata-kata. Sejumlah baris kalmat yang dijajar ke bawah, dan dinyatakan oleh penulisnya atau orang yang membacanya sebagai puisi. Namun pernyataan ini bukanlah definisi. Bukan juga konvensi yang dapat dipakai untuk mengenali seluk beluk puisi, apresiasi dan pengembangannya kearah yang lebih dekat dengan proses-proses ekspresi dalam penciptaan puisi, sehingga mudah orang mengatakan bahwa semua orang bisa menulis puisi.
Berbeda, ketika puisi dipahami sebagai bentuk ekspresi seni yang diwujudkan melalui kata-kata dan diciptakan berdasarkan konvensi aturan, konsep atau kriteria-kriteria tertentu seperti: kemampuan dan kesanggupan intelektif (penalaran), intuitif (perasaan) maupun reflektif (perenungan) dalam berkarya, maka semua orang akan percaya, bahkan meyakini, bahwa tidak semua orang dapat menulis puisi.
Dengan berkembangnya pemahaman atau pemikiran manusia, puisi diakui sebagai ilmu pengetahuan dimana makna puisi dan proses-proses penciptaannya dapat di pelajari dan diajarkan oleh siapa saja.
Sebagai ilmu pengetahuan, puisi memiliki definisi yang beragam. Ada yang mengatakan bahwa puisi adalah susunan kata yang indah dan bermakna. Ada juga yang berpendapat, puisi adalah susunan kata yang terikat oleh konvensi, oleh aturan atau unsur-unsur bunyi. Sementara yang lain menganggap, puisi merupakan susunan kata-kata yang indah dan dirangkai dalam bentuk yang indah. Puisi juga sering disebut sebagai pernyataan jiwa, emosi, dan pengalaman yang diungkapkan melalui kata-kata terpilih, padat, dan singkat. Puisi juga berarti susunan kata yang keluar dari percampuran antara perasaan dan pikiran. Namun ada juga yang mendefinisikan sebagai rekaman peristiwa yang paling berkesan dalam kehidupan, dan dinyatakan dalam susunan kata yang hemat dan tepat.
Dari ragam definisi diatas, setidaknya dapat ditemukan beberapa unsur pokok atau konvensi yang menyebabkan susunan atau rangkaian kata-kata itu bisa disebut puisi, yakni:
– Unsur penulisan (padat, singkat dan tepat)
– Unsur keindahan (irama, bunyi dan nada)
– Unsur perasaan (emosi, kesan, dan pengalaman)
– Unsur pikiran (logika, penggambaran, atau penafsiran terhadap peristiwa), serta
– Unsur Makna (arti, pesan, atau amanat)
Dalam perkembangan sastra Indonesia terkini, puisi sering juga disebut sajak, atau syair. Ketiganya merupakan istilah yang dapat dipakai secara bergantian dan sama sekali tidak mengandung perbedaan.
Sebagai ekspresi seni, puisi dapat ditulis atau dicipta memalui cara-cara tertentu, atau biasa disebut dengan poses kreatif, atau tahap-tahap yang mesti dilalui dalam penciptaan (penulisan) puisi. Proses kreatif dalam penciptaan puisi pada dasarnya tidak mengikat. Artinya, proses kreatif itu bisa berbeda antara orang (seniman) yang satu dengan yang lainnya. Namun dalam proses penciptaan puisi secara umum dapat dikelompokkan menjadi empat tahap; yaitu penerapan, pengendapan, penulisan dan perbaikan.
Yang pertama, tahap penerapan menunjuk pada proses atau kegiatan sehari-hari untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, melalui membaca, melihat, merasakan terahdap berbagai peristiwa, kejadian, dan pengalaman yang bersifat individual (dalam kehidupannya sendiri), sosial (di tengah masyarakat) maupun universal (kemanusiaan dan ketuhanan).
Yang kedua, tahap pengendapan; berarti memilih atau menyaring informasi (masalah, tema, ide, gagasan) yang menarik dari tahap pertama, kemudian memikirkan, merenungkan dan menafsirkan sesuai dengan konteks, tujuan dan pengetahuan yang dimiliki. Dengan begitu, segala informasi yang diperoleh tidak langsung diterima, tetapi harus diolah dan dikaitkan, dibentuk dan dikembangkan seluas mungkin.
Yang ketiga, penulisan; merupakan proses yang paling genting dan rumit. Pada tahap ini, seluruh energi kreatif (kemampuan daya cipta) intuisi dan imajinasi (kepekaan rasa dan kecerdasan pikiran), pengalaman dan pengetahuan, berbaur menjadi satu untuk mencari dan menemukan kata-kata atau kalimat yang tepat, sengkat, dan padat, yang indah dan mengesankan, dan dianggap telah mewakili informasi dan hasil perenungan yang diperoleh dari tahap/kegiatan sebelumnya. Sampai kata-kata itu menjadi tersusun dan bermakna, terbentuk dan terbaca sebagai puisi.
Yang keempat, perbaikan: tahap ini dapat juga disebut pembacaan ulang terhadap puisi yang telah dilahirkan. Disini, ketelitian dan kejelian seseorang untuk mengoreksi seluruh rangkaian kata, kalimat, baris dan bait, sangat dibutuhkan. Kemudian mengubah, mengganti, atau menyusun kembali setiap kata atau kalimat yang tidak/kurang tepat; sehingga, seluruh susunan kata itu saling terkait, saling berhubungan, saling mendukung dan membiasakan gaya bahasa, deskripsi atau penggambaran yang bersifat unik (simbolik, metaforik), berkesan, utuh, dan mendalam. Oleh karena itu, bisa jadi proses perbaikan dapat memakan waktu yang lebih lama dari penulisannya, sampai puisi tersebut telah dianggap ”menjadi” tidak lagi dapat diubah atau diperbaiki.
Dalam bidang kesusastraan, proses kreatif sering ditafsirkan sebagai latar psikologis yang menyebabkan seorang memiliki keyakinan yang utuh untuk menekuni dan menulis karya satra. Namun, proses kreatif juga dapat dipersamakan dengan kecenderungan teknik dan metode penulisan yang dikembangkan oleh seorang sastrawan.
Sehingga karya-karya yang dihasilkan memiliki karakter khas yang bersifat unik dan orisinal, atau setidak-tidaknya dapat memenuhi kriteria dalam kualitas karya sastra, seperti puisi. Oleh karena itu, proses kreatif penulisan sastra memiliki jalinan erat dengan tingkat apresiasi, wawasan dan pengetahuan seorang pengarang terhadap bentuk dan jenis kesusastraan yang dipilih. Disamping itu juga proses kreatif, mengisyaratkan adanya minat dan bakat, perjuangan dan kepercayaan diri, sehingga jenis dan bentuk tulisan yang dihasilkan dapat dinyatakan oleh dirinya sendiri sebagai karya sastra atau telah dianggap memenuhi kualitas dan kriteria-kriteria dalam penciptaan puisi. Kemudian dipublikasikan melalui media massa yang bersifat konvensional, seperti dibacakan ditengah masyarakat, diberbagai tempat), elektronik (radio, televisi, dan lain sebagainya) maupun printikal (buku, koran, tabloid, majalah dan jurnal).
Dalam pengertian lain, pengembangan dapat dipahami sebagai aktivitas yang paling menentukan dalam proses kreatif penulisan puisi. Sehingga puisi-puisi yang telah dilahirkan dapat bertemu dan berkomunikasi secara langsung dengan pembacanya.
Sastra dan Komunikasi
Manusia telah menjadikan bahasa sebagai kebudayaan imflisit untuk mengungkapkan skema kognitifnya, yaitu skema fikiran, gagasan dan pengalamannya tentang dunia
.
81)Istilah sastra untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial, ekonomi dan keagamaan keberadaannya tidak merupakan keharusan. Hal ini berarti bahwa sastra merupakan gejala yang universal. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala universal itu mendapat konsep yang universal pula. Kriteria yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria sastra yang ada pada masyarakat lain.
82)
Bahasa sastra juga bersifat dinamis, terbuka terhadap adanya kemungkinan penyimpangan dan pembaharuan, namun juga tidak mengabaikan fungsi komunikasinya. Penuturan kesusastraan pun pada hakekatnya dapat dipandang sebagai proses (usaha) komunikasi.
83)
Fenomena yang universal sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama diliahat dari bahan bakunya, yaitu bahasa. Namun pemakaiannya berbeda dengan pemakaian sehari-hari (
natural atau ordinary language) yang memberikannya sifat spesial (Lotman, 1972). Atau sering juga disebut menyimpang (
ungrmatikalitis) (Riffaterre, 1978, Bdk., Ellis 1974), dan menimbulkan interpretasi ganda. Atau menurut Umar Yunus (1985) pengolahan dengan memanipulasi, hingga bahasa sastra memiliki susunan yang kompleks (Ellis, 1974). Bahasa sastra dicirikan sebagai bahasa (yang mengandung unsur) emotif dan bersifat konotatif sebagai kebalikan dari bahasa non sastra, khususnya bahasa ilmiyah, yang rasional dan denotatif.
84)Bila pemakaian bahasa dalam kegiatan sehari-hari merupakan sistem pembentukan yang pertama, maka sastra merupakan sistem yang kedua,
secondary modeling system (Lotman, 1972).
85)
Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Oleh karena itu kehadiran karya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Pengarang sebagai subjek individual mencoba manghasilkan pandangan dunia (
vision du monde) kepada subjek kolektifnya. Siknifikansi yang dielaborasikan subjek individual terhadap relaitas di sekitarnya menunjukkan sebuah karya sastra berakar pada kultur tertentu dan masyarakat tertentu. Keberadaan sastra yang demikian itu, menjadikan ia dapat diposisikan sebagai dokumen sosio-budaya.
86)
Ada dua kelompok sastra menurut Goldman, yaitu karya sastra yang dihasilkan pengarang kelas utama dan kelas kedua. Karya sastra pengarang kelas utama adalah karya sastra yang strukturnya dibangun dengan struktur kelompok atau kelas sosial tertentu. Sedangkan karya sastra yang dihasilkan pengarang kelas dua adalah karya sastra yang isinya hanya sekedar reproduksi segi permukaan realitas sosial dan kesadaran kolektif.
87)
Suatu karya sastra memiliki bangunan tidak saja dari segi intrinsik tetapi juga memiliki segi ekstrinsik yang kuat.
Segi intrinsik yang dimaksud adalah latar atau setting, penokohan atau perwatakan , tema dan gaya memiliki posisinya yang khusus dalam penelitian sastra. Sedangkan segi ekstrensik suatu karya sastra adalah hal-hal di luar karya sastra yang secara langsung ataupun tidak langsung berkaitan dengan keberadaanya, seperti faktor-faktor psikologis, sosiologis, geografis, ekonomis, politik dan relegiusitas.
88)
Bahasa yang digunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra, pada hakekatnya, dalam rangka fungsi sastra berperan sebagai sarana komunikasi, yaitu untuk menyampaikan informasi. Dengan memperhatikan teori komunikasi yang dikemukakan oleh Eco, yang cenderung memperlihatkan gejala reduksi dan penyusutan dalam yang terkandung dalam informasi, maka memanipulasi kata pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal (Eco, 1976). Dalam kondisi informasi yang demikian, sastra merupakan alat komunikasi yang padat informasi. Ia menjadi alat tranmisi yang paling ekonomis dan paling kompak, alat yang mempunyai kemampuan menyampaikan informasi yang tidak dimiliki oleh alat lain (Lotman, 1972).
89)
Melalui karyanya pengarang ingin mengkomunikasikan sesuatu kepada pembaca lewat beberapa bentuk, bisa melalui karya puisi, cerpen, kisah, novel atau bisa juga dalam bentuk naskah drama. Masing-masing pengarang memiliki cara dan kekhasannya sendiri-sendiri, berdasarkan pernyataan dari seorang pakar sastra yang menyatakan bahwa penekanan karya sastra yang baik biasanya selalu memiliki akar yang jelas.
90)
Dalam Proses Komunikasi atau penyampaian pesan, Islam mengenalnya sebagai pendekatan dakwah Islamiyah, sasaran dakwahnya adalah pembaca, pendengar atau penonton dari sebuah karya sastra. Model pendekatan dakwah seperti ini sangat erat pula kaitannya dengan metode dakwah atau manajemen dakwah, yaitu perencanaan dan pengorganisasian elemen-elemen dakwah secara sistematis.
91)
Model transpormasi komunikasi sastra dengan komunikasi dakwah dimaksudkan terutama untuk menggali kekayaan dan menciptakan berbagai alternatif sisitem dakwah yang lebih bisa memenuhi kebutuhan jaman, dimana informasi tidak bisa terlepas dari bentuk-bentuk hiburan dan keseniaan pada umumnya . Oleh karena itu upaya mengungkap makna nilai-nilai relegius dan hubungannya dengan sistem simbol sebagai ciri khas dunia sastra, baik simbol menurut struktur bahasa sastra sendiri maupun unsur simbol yang ada diluar sastra, dimana ia barada dalam masyarakatnya yakni sistem budaya, memerlukan ketelitian dan pencarian wawasan yang luas secara khusus.
92)
Pesan moral dalam Sastra
Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan
, pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran, dan hal itulah yang ingin disampaikannya kepada pembaca.
93)
Moral dalam karya sastra dapat dipandang sebagai amanat, pesan,
message. Bahkan, unsur amanat itu, sebenarnya, merupakan gagasan yang mendasari penulisan karya itu, gagasan yang mendasari diciptakannya karya sastra sebagai pendukung pesan.
94)
Pesan moral sastra lebih memberat pada sifat kodrati manusia yang hakiki, bukan pada aturan-aturan yang dibuat, ditentukan, dan dihakimi oleh manusia.
95)
Dari isi tertentu karya sastra, fiksi, dapat dipandang sebagai bentuk manifestasi keinginan pengarang untuk mendialog, menawar, dan menyampaikan sesuatu. Sesuatu itu mungkin berupa pandangan tentang suatu hal, gagasan, moral, atau amanat. Dalam pengertian ini, karya sastrapun, dapat dipandang sebagai sarana komunikasi. Namun, dibandingkan dengan sarana komunikasi yang lain, tertulis ataupun lisan karya sastra merupakan salah satu wujud karya seni yang
notabene mengemban tujuan estetik, tentunya mempunyai kekhususan sendiri dalam hal menyampaikan pesan-pesan moralnya.
96)
Pesan Moral dalam sastra sendiri dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
1.
Pesan Relegius. Kehadiran unsur relegius dalam sastra adalah suatu keberadaan sastra itu sendiri. Bahkan, sastra tumbuh dari sesuatu yang bersifat relegius. Karena pada awal mulanya segala sastra adalah relegius.
97) Istilah relegius membawa konotasi agama. Relegius dan agama memang erat berkaitan, berdampingan, bahkan dapat melebur dalam satu kesatuan, namun sebenarnya keduanya menyaran kepada makna yang berbeda. Agama lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan dengan hukum-hukum yang resmi. Relegiusitas, dipihak lain, melihat aspek yang di lubuk hati, riak getaran nurani pribadi, totalitas kedalam pribadi manusia.
98) Dengan demikian, relegius bersifat mengatasi, lebih dalam, dan lebih luas dari agama yang tampak, formal dan resmi.
99)
2.
Pesan Kritik Sosial. Banyak karya sastra yang bernilai tinggi yang di dalamnya menampilkan pesan-pesan moral berupa kritik sosial. Namun perlu ditegaskan, bahwa karya-karya tersebut menjadi bernilai bukan lantaran pesan itu, melainkan lebih ditentukan oleh koherensi semua unsur yang membangunnya. Pesan moral hanya merupakan salah satu unsur pembangun karya sastra, yang sebenarnya justru tidak mungkin terlihat dipaksakan dalam karya yang baik, walau hal itu mungkin sekali sebagai salah satu pendorong ditulisnya sebuah karya. Selain itu, pesan moralpun khususnya yang berupa kritik sosial, dapat mempengaruhi aktualisasi karya yang bersangkutan.
100)
Sedangkan bentuk penyampaian pesan moral dalam karya sastra dapat dibagi dua,
101)yaitu:
1. Bentuk penyampaian langsung, artinya moral yang ingin disampaikan kepada pembaca dilakukan secara langsung dan eksplisit. Pengarang, dalam hal ini, tampak bersifat menggurui pembaca, secara langsung memberikan nasehat dan petuahnya. Pesan moral yang bersifat langsung biasanya terasa dipaksakan dan kurang koherensif dengan unsur-unsur yang lain. Hal itu tentu saja justru akan merendahklan nilai literer karya yang bersangkuatan. Karena karya sastra adalah karya estetis yang memiliki fungsi untuk menghibur, memberi kenikmatan emosional dan intelektual. Untuk mampu berperan seperti itu, karya sastra haruslah memiliki kepaduan yang utuh diantara semua unsurnya.
2. Bentuk penyampaian tidak langsung, artinya pesan moral yang ingin disampaikan tidak disampaikan secara langsung, tetapi hanya tersirat dan berpadu secara koherensif dengan unsur-unsur yang lain. Bukankah cara penyampaian yang demikian justru memaksa pembaca untuk merenungkan dan menghayati secara lebih intensif?
Bukankah salah satu sifat khas sastra adalah berusaha menungkapkan sesuatu secara tidak langsung? Berangkat dari sifat esensi inilah sastra tampil dengan kompleksitas makna yang dikandungnya. Hal itu justru dapat dipandang sebagai kelebihan karya sastra, kelebihan dalam hal banyaknya kemungkinan penafsiran, dari orang seorang, dari waktu ke waktu. Hal ini pulalah yang menyebabkan karya sastra sering tidak ketinggalan, sanggup melewati batas waktu dan kebangsaaan.
Persoalan yang dihadapi pembaca kemudian adalah: mampukah ia menemukan dan mengenali pesan-pesan moral itu, dan kalau mungkin mengambil hikmahnya.
Penelitian Sastra
Sastra merupakan bagian dari kelompok ilmu-ilmu humaniora, seperti halnya bahasa, sejarah, kesenian, filasafat dan etika. Keseluruhan ilmu-ilmu humaniora itu merupakan esensi kebudayaan. Penelitian sastra bermanfaat untuk memahami aspek kemanusiaan dan kebudayaan yang tertuang dalam karya sastra.
102)
Abrams (1979), membagi model pendekatan dalam penelitian ke dalam empat kelompok besar,
103) yaitu:
i. Model yang menonjolkan kajian terhadap peran pengarang sebagai pencipta karya sastra disebut ekspresif,
ii. yang menitik beratkan sorotannya terhadap peranan pembaca sebagai penyambut dan penghayat sastra disebut pragmatif,
iii. yang lebih berorientasi kepada aspek referensial dalam kaitannya dalam dunia nyata disebut memetik,
iv. sedangkan yang memberi perhatian penuh pada karya sastra sebagai struktur otonom dengan koherinsi intrinsik disebut pendekatan objektif.
Dalam penelitian ini memilih pendekatan pragmatif, dan menggunakan teori resepsi sastra.
104) Teori ini dapat disebut sebagai aliran yang meneliti teks sastra dengan bertitik tolak pada pembaca yang reaksi atau tanggapan terhadap teks. Hal ini berarti bahwa karya sastra tidak sama pembacaan, pemahaman dan penilaian sepanjang masa atau dalam golongan masyarakat tertentu. Teori Resepsi Sastra dengan Jausz sebagai orang pertama yang telah mensistematiskan pandangan tersebut kedalam satu landasan teoritis yang baru untuk mempertanggung jawabkan variasi dan interpretasi sebagai sesuatu yang wajar.
105)
Dalam perumusan teori ini, dalam memberikan sambutan terhadap suatu karya sastra, pembaca diarahkan oleh “horizon harapan”
(horizon of ekspectation). Horison harapan ini merupakan interaksi antara karya sastra disatu pihak dan sistem interpretasi dalam masyarakat penikmat dipihak lain.
106)Horizon harapan karya sastra yang memungkinkan pembaca memberi makna terhadap karya tersebut, sebenarnya telah diarahkan oleh penyair lewat sistem konvensi sastra yang dimanfaatkan dalam karyanya.
107)
Konsep “horizon harapan” menjadi dasar teoeri Jausz ditentukan oleh tiga kriteria: (1) norma-norma umum yang terpancar dari teks-teks yang telah dibaca oleh pembaca; (2) pengetahuan dan pengalaman pembaca atau semua teks yang telah dibaca sebelumnya; (3) pertentangan antara fiksi dan kenyataan, misalnya kemampuan memahami teks baru, baik dalm horizon ‘sempit’ dari harapan-harapan sastra maupun dalam horizon ‘luas’ dari pengetahuan tentang kehidupan.
108)
Konsep teori yang kedua dikemukakan oleh Wolfgang Iser, terutama terlihat dalam karangannya yang berjudul
Die Appel-structur de texte (1975). Disini Iser membicarakan konsep efek
(wirkung), adalah sebuah cara teks sastra mengarahkan reaksi pembaca terhadapnya. Menurut Iser sebuah teks sastra dicirikan oleh kesenjangan atau bagian-bagian yang tidak ditentukan
(interdemenate sections). Kesenjangan tersebut merupakan satu faktor penting efek yang hadir dalam teks untuk diisi oleh pembaca. Jika kesenjangan itu sedikit, teks dapat mendatangkan kebosanan kepada pembaca, hal ini dipertentangkan dengan kesenjangan yang meningkat.
109) Bagian-bagian yang tidak disebutkan itu disebut juga dengan istilah “tempat-tempat terbuka”
(blank, openness)di dalam teks. Proses pemahaman sebuah karya sastra merupakan bolak-balik pembacaan untuk mengisi blank itu, sehingga seluruh perbedaan segmen dan pola perspektif teks dapat dihubungkan dalam satu kebulatan. Tempat terbuka itu terjadi karena sifat karya sastra yang
asimetri, tidak berimbang antara teks dengan pembaca. Apabila pembaca berhasil menjembatani kesenjangan tersebut, maka berbagai kemungkinan komunikasi pun telah dimulai. Aktivitas pembacaan dalam proses menjembatani kesenjangan atau mengisi tempat terbuka itu dikontrol dan diarahkan oleh teks itu sendiri.
110)
Kedua konsep dasar teori resepsi sastra ini, ialah “horizon harapan” dan “tempat terbuka”, merupakan pengetahuan dasar untuk memahami resepsi sastra. Kedua konsep ini dalam tahap berikutnya terlihat muncul kembali dalam masalah hubungan
intertekstualitas. Pembacaan Iser misalnya, mempunyai kedekatan dengan tahap
pembacaan retroaktif pada Riffaterre. Tahap pembacaan kedua ini bertujuan untuk membongkar kode
(decoding)di dalam teks, sehingga ditemukan
hipogram-nya yang akan membulatkan makna karya tersebut. Hipogram adalah teks lain yang menjadi landasan penciptaan suatu karya, baik dalam kesejajaran maupun dalam pertentangan.
111)
Metode Penelitian
Sifat Penelitian.
Penelitian skripsi ini bersifat
kualitatif, yakni dengan menitik beratkan pada segi alamiah dan mendasarkan pada karakter yang terdapat dalam data,
112) yang menekankan pada faktor kontekstual.
113)
Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah sumber data dari penelitian di mana data diperoleh.
114) Adapun yang menjadi subyek pada penelitian ini adalah:
a). Para pendahulu Teater ESKA
b). Pengurus Teater ESKA
c). Anggota Teater ESKA
d). Para Sutradara Pementasan Tadarus Puisi, antara lain:
1. Edeng Syamsul Ma’arif (Pementasan “Keluk Gurindam” 1998)
2. Solichul Hadi (Pementasan “Kabar Dari Langit” 2000)
3. Zuhdi Siswanto (Pementasan “Ziarah Abadi” 2001)
e). Pelaku dan Pengamat Kesenian
1. Joni Ariadinata (Cerpenis, Pelukis, Essais, Redaktur Horison)
2. Iman Budi Santoso (Cerpenis, Penyair, Essais, Pelukis)
3. Bambang JP. (Cerpenis, Penyair, Essais, Pelukis)
Obyek Penelitian
Obyek penelitian adalah masalah yang ingin diteliti atau masalah penelitian yang dijadikan obyek penelitian, yaitu suatu problem yang harus dipisahkan atau dibatasi melalui penelitian.
115)
Adapun obyek penelitian ini adalah segala aktivitas kesenian Teater ESKA, yang kemudian akan dikhususkan pada Pementasan Tadarus Puisi.
Tehnik Pengumpulan Data:
sample, menggunakan
purposive sampling,
116)sampel yang biasanya sedikit dan dipilih menurut kepentingan dan tujuan penelitian.
intervieuw,
117) pengumpulan data dengan komunikasi langsung antara peneliti dengan subjek penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan interviuew tak terstruktur.
118)
dokumentasi,
119)pengumpulan data mengenai hal atau variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.
Teknik Analisa Data
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif. Penelitian deskriptif pada dasarnya merupakan langkah-langkah melakukan reinterpretasi obyektif tentang fenomena-fenomena yang terdapat dalam permasalahan yang diteliti.
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus dimana objek yang diteliti dipandang sebagai suatu kasus yang diamati secara intensif dan mendetail untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakter yang khas dari suatu kasus yang kemudian dari sifat-sifat khas tersebut akan dijadikan hal yang bersifat umum.
Sistematika Penulisan
Bab satu. Merupakan bab pendahuluan yang terdiri dari Penegasan Judul, Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Kerangka Pemikiran Teoritik, dan Metode Penelitian.
Bab dua membahas tentang Gambaran Umum Teater ESKA IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Yang terdiri dari Sejarah Berdirinya, Visi, Misi dan Orientasi, Struktur Organisasi & Program Kerja, Konsep Estetika dan Proses Kreatif.
Bab tiga yang merupakan bab pembahasan Pesan Dakwah dalam Pementasan Tadarus Puisi.
Bab empat yang merupakan bab penutup terdiri dari Kesimpulan dan Saran.
BAB II
GAMBARAN UMUM TEATER ESKA
IAIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
A. Sejarah Berdirinya1)
Berkaitan dengan penelitian ini, pada awal tahun 80-an di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga pernah ada sebuah komunitas kesenian yang diberi nama “Kelompok Ushuluddin”. Kelompok ini sempat mementaskan naskah drama “Aduh” karya Putu Wijaya.
2) Pada perjalanannya orang-orang yang terlibat dalam kelompok ini mencoba membentuk kelompok kesenian pada tingkat institut, agar cakupan kegiatan lebih luas dan dapat menampung apresiasi seni pada waktu itu.
3)
Maka dibentuklah Teater ESKA, yang lahir sejak pentas perdana Kesadaran Yang Kembali, karya Uga Percesa Cs., pada tanggal 16 Oktober 1980, dan dibentuk secara organisatoris pada tanggal 18 Oktober 1980.4) Komunitas ini didirikan oleh almarhum Rahmatullah HD (mantan Redaktur Agama Majalah Editor), Sunu Adi Purwanto (mantan Red. Pel. Tabloid Eksponen), Deddy Hilman Haroen (kini Dekan III Fakultas Tarbiyah Universitas Cokroaminoto Yogyakarta) dan Solichin Wattimena (mereka berempat adalah alumni Pondok Modern Gontor) serta Sumanto (mantan wartawan Kedaulatan Rakyat) dan Ahmad Muharrom. Dengan motivasi utama untuk mewadahi “pemberontakan kultural” yang tidak terakomudasi oleh lembaga-lembaga kemaha- siswaan yang ada pada saat itu.5)
Pada tanggal 1 Februari 1983 terbitlah SK. Rektor No. 05/11/1983 yang mengakui Teater ESKA sebagai satu-satunya wadah kesenian dilingkungan IAIN Sunan Kalijaga.
6) Pada periode ini Organisasi Ekstra kampus –dengan segala ideologi dan segala permasalahannya– begitu mendominasi aktivitas di lingkungan IAIN Sunan Kalijaga. Mereka berebut dan mengklaim organisasi kemahasiswaan sebagai bagian dari ideologi dan bendera yang mereka bawa, tidak terkecuali teater ESKA. Hal ini membuat Teater ESKA bersikap dengan memposisikan diri sebagai antitesa konsep “
underbow” dari organisasi-organisasi ektra tersebut. Bahkan memaksa anggotanya untuk menentukan pilihan: “ESKA atau Organisasi Ekstra !”.
7)
Pada periode awal itu pula, Teater ESKA telah dianggap sebagai lembaga “oposisi” dikalangan civitas akademik IAIN Sunan Kalijaga. Dan karena itu, ia pernah dicap sebagai “kelompok urakan” dan dibenci para aktifis maupun birokrat kampus. Akan tetapi dengan keyakinan dan keteguhannya, Teater ESKA tetap berjalan dan berproses dengan sumber daya yang dimiliki. Dan sampai kini telah mengalami 8 kali pergantian pengurus; tahun 1983-1984 dipimpin oleh Sunu Andi Purwanto. Kemudian tahun 1984-1988 dipimpin oleh Hamdy Salad, 1988-1991 oleh Aly D. Musyrifa, 1991-1994 oleh Otto Sukatno CR., 1994-1997 Oleh A. Muchlis HM.. Lalu pada tahun 1997-1999 oleh Edeng Syamsul Ma’arif,
8) tahun 1999-2002 oleh Suhendra, dan sejak 2003 sampai sekarang dipimpin oleh Ismail Marzuki.
9)
Berkedudukan sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa dalam Keluarga Besar Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, berdomisili di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
10)
B. Visi, Misi dan Orientasi
Keberadaan Visi, Misi dan Orientasi adalah hal yang sangat krusial dalam sebuah organisasi. Karena setiap kebijakan yang diambil, baik yang bersifat intern maupun ekstern akan mengacu kepada tiga hal tersebut.
Misi, dengan kata lain, menjelaskan tujuan organisasi. Sedangkan visi memperjelas harus menyerupai apa tujuan itu, dan bagaimana tujuan harus berjalan agar bisa memenuhi misinya.
11)
Bahkan ada sebuah analisis yang mengaitkan antara visi dan misi serta perkembangan eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal ini akan membawa suatu organisasi menemukan arah (orientasi) menuju yang paling strategis. Dengan begitu organisasi akan tetap menjadi relevan.
12)
Adapun Visi, Misi dan Orientasi Teater Eska adalah sebagai berikut:
13)
a) Visi
(1) Menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai sumber kreatifitas dalam berkesenian.
(2) Mewujudkan alternatif kesenian yang bersifat hikmah dan transenden.
b) Misi
(1) Mencerahkan pikiran, kesadaran, hati nurani dan keimanan melalui kesenian.
(2) Menggali dan mengembangkan proses serta menciptakan karya seni yang sesuai dengan prinsip-prinsip Estetika Islam.
c) Orientasi
Pengembangan Kesenian Islam Secara Progresif ( Aktif, Maju, Dinamis, Intensif dan Kontemplatif).
C. Struktur Organisasi dan Program Kerja
Sebagai sebuah organisasi, Teater ESKA telah mengalami 3 kali perubahan administratif. Pada tahun 1983, Teater ESKA diakui sebagai satu-satunya teater institut (wadah kesenian) dikalangan civitas akademik dan diletakkan sebagai bagian dari pengembangan seni budaya pada Lembaga Pengembangan dan Pengabdian Pada Masyarakat (sekarang bernama LP-3M). Kemudian pada tahun 1988, administrasi Teater ESKA secara langsung berada di bawah pengawasan Pembantu Rektor III.
Dan pada tahun 1993, bersamaan dengan perubahan lembaga-lembaga kemahasiswaan, Teater ESKA tanpa pertimbangan apapun disebut sebagai UKM Teater, yang memiliki kedudukan sejajar dengan UKM-UKM lainnya.
14)
a)
Struktur Organisasi
15)
Pelindung : Rektor IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta
(Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah)
Penanggung Jawab : Pembantu Rektor III
(Dr. H. Ismail Lubis, MA.)
Pembina : Drs. Bachrum Bunyamin, MA.
Pengarah : Drs. Hamdy Salad
Drs. Otto Sukatno CR.
Drs. Matori A. Elwa
Kholil Habibullah, S.Ag., S.Sn.
Aning Ayu Kusuma, S.Ag., M.Si.
Ketua : Ismail Marzuki (Sy/PMH/IX)
Sekretaris : Fatchur Rohman (Dy/PMI/VII)
Bendahara : Mariah (Uy/AF/IX)
Bagian Kreatif
Kepala Bagian : Muchlis Daroini (Dy/KPI/VII)
Sastra : Nasruddin (Uy/AF/VII) (Koord.)
Hendra Cipta (Uy/AF/VII)
Bustan Basyir (Sy/JS/IX)
Misbahul Hidayah (Ay/BSA/IX)
Drama : M.S. Pranoto (Ay/BSA/VII) (Koord.)
Salmiwati (Uy/AF/VII)
&
nbsp; Syafi’ie Maduri (Uy/AF/VII)
Musik : SuryaTajuddin(Sy/PMH/VII) (Koord.)
Syaiful Malik (Ay/BSA/VII)
Nasrudin Rahman (Uy/AF/VII)
Bagian Rumah Tangga
Kepala Bagian : Rahmat Hidayat (Dy/BPI/VII)
Kesekretariatan : A. Muis (Sy/PMH/VII) (Koord.)
NurkhasanahIndrawati (Dy/KPI/IX)
Tri Ernawati (Dy/KPI/IX)
Perlengkapan : Maftuhatul Fikriyah (Sy/PMH/VII)
Hasan Mansur (Uy/AF/VII)
Bagian Humas
Kepala Bagian : Aan Shoffuanuddin (Ty/TADFI/IX)
M. Hariri (Uy/AF/IX)
Asnil Bambani (Dy/KPI/IX)
Program Kerja Umum
1. Pentas Produksi Ke XXVII
2. UlangTahun Teater ESKA
3. Work Shop, Studi Pentas dan Penerimaan Anggota Baru ke XV
4. Rapat Kerja Pengurus
5. Rembug Warga IX
Bagian Kreatif
Devisi Drama
a. Latihan Improvisasi Bulanan
b. Latihan Rutin 2 x seminggu (malam kamis dan minggu pagi)
c. Pentas Laboratorium
Devisi Sastra
a. Ruang Apresiasi:
– Diskusi Rutin malam Jum’at
– Pengadaan Buku sastra, naskah drama dan majalah sastra
– Bedah buku sastra
– Seminar sastra Na
sional
b. Ruang Ekspresi:
– Pentas Sastra
– Tadarus Puisi
Devisi Musik
1. Latihan Rutin 2x seminggu
2. Dokumentasi album dan pementasan
3. Pentas ilustrasi musik
4. Inventarisasi alat musik
5. Pentas Musik bertajuk (tematik).
Bagian Rumah Tangga
Bidang Kesekretariatan
1 Inventarisasi alat tulis kantor
2. Perbaikan Kaset Video, album foto dan klise
3. Pembenahan Panflet
4. Pengadaan almari
5. Penertiban arsip dan surat menyurat.
Bidang Perlengkapan
1. Inventarisasi barang-barang sanggar
2. Menjaga dan merawat barang-barang sanggar
3. Pengadaan barang-barang yang dibutuhkan
Bagian Humas
1. Membuat majalah/bulettin
2. Menjalin hubungan dengan komunitas lain.
D. Konsep Estetika17)
Konsep Estetika Teater ESKA secara garis besar tertuang dalam lambang organisasi Teater ESKA yang berbentuk segitiga sama sisi yang terbagi menjadi tiga tingkatan dan dilingkupi garis melengkung serta bertuliskan TEATER ESKA dibawah segitiga.
18)
Pada segitiga tingkat pertama atau realitas obyektif, Teater ESKA menjadikan segala fenomena dan realita yang terdapat dalam hidup serta jagat raya yang universum sebagai sumber inspirasi proses kreatif berkesenian. Yang kemudian tertuang dalam karya-karya anggota Teater ESKA, baik karya individu maupun karya kolektif. Seperti pada puisi, cerpen, novel, essai, musik, lukisan dan naskah drama.
Pada segitiga tingkat kedua atau realitas estetik, Teater ESKA mencoba menciptakan bentuk-bentuk kesenian, sesuai dengan konsepsi pemanggungan yang dianut dalam hal ini non-relais atau bersifat abstrak. Dapat dilihat dari pencapaian–pencapaian artistik yang dilakukan terus-menerus dan berkesinambungan dari generasi kegenerasi. Apapun bentuk capaian artistiknya, selalu ada benang merah, dan akan dapat dilihat dan dinilai sebagai produk kesenian Teater ESKA.
Sedangkan pada segitiga tingkat ketiga atau realitas transenden, merupakan cita-cita Teater ESKA dalam berkesenian. Hal ini sesuai dengan visi Teater ESKA yang tertuang dalam AD/ART, dan terealisasikan dalam pementasan. Atau bisa dikatakan, bahwa cita-cita kesenian Teater ESKA adalah Kesenian Transendental.
Adapun pada segitiga sama sisi yang membentuk huruf Sin dan Nun berarti Sunan Kalijaga, Teater ESKA sebagai lembaga kesenian yang bernaung di bawah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dilingkupi oleh garis lengkung, atau realitas panggung yang sesuai dengan norma-norma dan bersumber dari al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW.
Dan semua konsep estetika itu baru akan terlihat dengan jelas dalam setiap pementasan yang digagas dan digelar oleh Teater ESKA.
E. Proses Kreatif
Perkembangan proses-proses kreatif Teater ESKA secara estetik maupun dramatik telah mengalami pergesekan-pergesekan yang cukup berbelit dalam tertib sosial dan kebudayaan. Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh berbagai anasir yang mengitarinya. Baik yang berhubungan dengan unsur-unsur definitifnya sebagai teater kampus, dengan dasar simbolik yang mendasari keberadaannya maupun dengan perjuangan seni dan teater pada umumnya dalam wilayah yang tidak terbatas.
19)
Pada yang pertama, Teater ESKA telah mencoba untuk menampakkan diri sebagai bagian dari gerakan intelektual dan kebudayaan. Sehingga definitif teater kampus hanya diyakini dalam jaringan kebebasan dan kemerdekaan “tradisi berfikir” yang selalu mendorong untuk bergerak, menolak atau menghancurkan setiap kemungkinan otoriterianisme budaya yang mencengkeram keberadaannya. Dan karena itu, Teater Eska tidak pernah bersepakat untuk menjadikan dirinya semata “warung hiburan” atau berperan sebagai “pesolek” di antara civitas akademika maupun di tengah mahasiswa pada umumnya. Dengan begitu, jika kehadiran teater kampus dapat disandarkan kedalam lembaga formalitas (yang hanya berperan sebagai wadah program-program kesenian “dalam rangka” kegiatan kampus atau yang lainnya), sebagai lembaga pragmatis (yang memperlakukan kesenian sebagai mikropon pemberontakan di tengah mimbar politik dan sosial) dan lembaga kreatifitas (yang memposisikan seni sebagai tempat untuk berproses di tengah perubahan dan pergeseran budaya melalui wacana-wacana apresiatif, ekspresi dan kreatifitas teateral), maka Teater Eska telah menempatkan terompah kakinya pada yang terakhir itu.
20)
Kedua, kebersatuan latar simbolik Teater ESKA dengan IAIN telah melahirkan pertimbangan-pertimbangan teologis yang menyeruak di antara realita empirik (subyek dan obyek teater), realitas estetik (identitas karekterisasinya) dan realitas transenden (relegiusitas, visi dan aksentuasinya). Pada wilayah empirikal, Teater Eska dituntut untuk berani memutuskan beberapa alternatif yang bersifat yudikatif (syar’iyah dan fiqhiyah) dalam proses-proses teater, baik diluar ataupun diatas panggung pertunjukan. Pada dataran estetik, penelusuran terhadap hakekat seni, keberagaman wacana, dan bentuk-bentuk perwujudannya dalam struktur “Islamic culture” telah menjejakkan Teater Eska untuk menempuh perjalanannnya diluar konsep realisme (sebentuk aliran seni yang tidak populer dalam estetisme Islam). Sedangkan dalam ruang transendensi, keyakinan-keyakinan teologis para pelaku dan pendukung Teater ESKA telah melibatkan secara langsung pada pokok-pokok pemikiran, penghayatan dan pengalaman yang bersifat spiritual dan alternatif-alternatif pemecahannya secara literel (pengayaan tematik dan pemilihan naskah) maupun eksperimental (penempuhan dan pencarian ide di atas maupun di luar panggung)
21). Hal ini juga membawa konsekwensi pada penulisan naskah, banyak naskah yang kemudian diadaptasi dan ditulis sendiri oleh anggota Teater ESKA agar sesuai dengan konsep estetikanya. Hal ini juga menjawab fenomena kemandegan penulisan naskah yang melanda kelompok-kelompok teater pada umumnya.
22)
Ketiga, di tengah perjuangan-perjuangan seni dan teater pada umumnya, keberadaan sebuah komunitas kreatif ( kelompok, group atau sanggar) tidak seharusnya untuk mengalienasi diri dalam ruang yang sempit. Dan karena itu Teater Eska senantiasa ingin hadir di sana dengan cara yang progresif, baik dengan dirinya sendiri atau sebagai varian (dan equilibrian) dalam khazanah teater pada umumnya. Namun, ketika “
rezimentasi” praktek-praktek institusi dan kekuasaan seni ditengah khalayak telah menjelma sebagai makhluk kanibal, Teater ESKA mengandungi keniscayaan untuk berubah sebagai pemberontak dan pelawan yang siap untuk menerima akibat-akibatnya, meskipun harus menepi dalam kesendirian yang mencekam.
23)Dalam usianya yang ke 23 Teater ESKA telah melahirkan berbagai kegiatan kreatif, baik secara produksional maupun kolaboratif, yang terdiri dari :
a)
Pementasan Teater, yang merupakan Pentas produksi:
24)
1. Kesadaran Yang Kembali, Uga Perceka Cs., sutradara Deddy Hilman Haroen, Yogyakarta, 16 Oktober 1980.
Kisah anak-anak nakal yang kemudian mendapat bencana dan musibah, lalu mencoba kembali kejalan yang benar seperti apa yang diajarkan oleh agama.
2. Syekh Siti Jenar, Vredi Kastam Marta Katamso, Yogyakarta, 2 April 1983.
Adaptasi dari kisah Syeh Siti jenar yang memiliki pemahaman dan metode pembelajaran agama yang dianggap menyimpang oleh sebagian ulama pada saat itu. Dengan mengatasnamakan penguasa beliau diadili dan dijatuhi hukuman mati.
3. SLA (Shalom Alaichem), WS. Rendra, sutradara Rahmatullah HD., Yogyakarta, 3 maret 1984, Semarang, 24 April 1984. Perbedaan keyakinan antara murid dan guru, melahirkan perdebatan sampai akhornya menemukan titik temu.
4. Layatan I, adaptasi Godlob, Danarto, Yogyakarta, 1984
Kisah seorang pejuang yang berkhianat pada masa perjuangan, ketika meninggal tak seorangpun yang mau mengurus jenazahnya, hingga tersia-sia dan menjadi makanan burung pemakan bangkai dan gagak.
5. Layatan II, adaptasi cerpen Firman Tuhan, A. Qasyim Qahar, sutradara Hamdy Salad, APMD Yogayakarta, 1985
Kematian seorang warga dusun yang tidak diketahui dengan pasti penyebebnya. Hal ini menimbulkan fitnah dan saling curiga antara warga yang satu dengan lainnya.
6. Persimpangan, P. Haryanto, Yogyakarta, 1985.
Sekelompok orang yang melakukan perjalanan untuk menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah perjalanan mereka menemukan berbagai macam peristiwa dan tanda-tanda yang membuat mereka bimbang dan ragu. Terjadilah perdebatan untuk menentukan jalan menuju kebahagiaan sejati.
7. Graffito, Akhudiyat, Yogyakarta, 1985.
Kisah orang jalanan yang tidak menemukan kebahagiaan dalam perkawinannya karena perbedaan agama.
8. Sang Dosa, Sanggar Kesenian Muslim (SKSM), sutradara Hamdy Salad, Yogyakarta, 1986.
Kisah seorang pendosa yang kemudian mati. Menerima siksa atas segala perbuataanya di dunia.
9. Ken Arok, sutradara Hamdy Salad, Yogyakarta, 1987. Adaptasi kisah keberaniaan, kekuatan dan kesombongan Ken Arok untuk mendapatkan kekuasaan dengan cara membunuh setiap orang yang melawan. Lalu ia sendiri mati dibunuh oleh keturunannya sendiri.
10. Potret: Improvisasi, Yogyakarta, 16 Maret 1987.
Mengisahkan tiga kelompok masyarakat yang saling menjatuhkan, namun kemudian menemukan mufakat untuk menyelesaikan perselisihan itu.
11. Wahsy, adaptasi novel Nadjib Kailani, sutradara Hamdy Salad, Yogyakarta, 8 Desember 1988. Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) II, Yogyakarta, 12 Juni 1990.
Adaptasi kisah pembunuh Hamzah Singa Padang Pasir, yang kemudian bertobat dan memeluk agama Islam, namun sepanjang hidupnya selalu gelisah, karena dibayang-banyangi oleh perbuatannya dimasa lalu.
12. Thengul, Arifin C. Noer, sutradara Hamdy Salad, Yogyakarta, 12-13 Maret 1990.
Kisah orang miskin yang mengadu nasib denganh berjudi, namun selalu mengalami kegagalan. Akhirnya, mencari kekayaan dengan pesugihan.
13. Dor, Putu Wijaya, sutradara Mas Cholis, Yogyakarta, 27-28 November 1990.
Sebuah pengadilan terhadap seorang penguasa. Didakwa telah melakukan penyelewengan atas kekuasaan yang dimilikinya, baik terhadap hukum positif maupun etika masyarakat.
14. Rintrik, adaptasi cerpen Danarto, sutadara Aly D. Musyrifa, Yogyakarta, 27-28 Desember 1991
Ditemukannya jabang bayi ditepi hutan, diduga dibuang oleh orang tuanya untuk menutupi aib karena hasil dari hubungan yang tidak sah. Kejadian ini kemudian dijadikan sebagai pelajaran, bahwa anak adalah amanat dari Tuhan.
15. Parlemen Syetan, adaptasi puisi Iqbal, sutradara Kajey Habeb, PP. Modern Darusslam Ciamis, 18-19 Oktober 1992, IAIN Semarang 18 Oktober 1993.
Kelahiran anak manusia yang merupakan kaki tangan syetan didunia. Mereka kemudian bersiasat untuk menggoda dan menjerumuskan manusia kedalam kenistaan, jauh dari ajaran agamanya.
16. Kunci Surga, naskah/sutradara Otto Sukatno CR., Yogyakarta, 16-17 April 1993.
Kisah tentang Pemimpin yang memiliki sifat yang buruk, sehingga segala kebijakan yang diambil banyak ditentang oleh warganya.
17. Si pandir, Lampu dan Matahari, naskah/sutradara Hamdy Salad, Purna Budaya Yogyakarta, 23 Februari 1994
Seorang musyafir yang mengembara keberbagai penjuru dunia untuk menemukan lampu cahaya, hingga terbuka matahatinya untuk melihat berbagai sebab kejadian di dunia baik yang bersifat nyata maupun gaib.
18. Untitle, naskah/sutradara Kajey Habeb, Teater Musim Panas, Purna Budaya Yogyakarta, September 1994.
Perjuangan seorang pemuda dalam memperkenalkan kebajikan terhadap para pejudi, pemabok, pezinah, pencuri dan pembunuh.
19. Simurgh, adaptasi novel Musyawarah Burung Fariruddin Attar, sutradara Fauzan Rafiq, Yogyakarta, 29 Okrober 1994. Sekelompok orang yang melakukan aktifitas ritual untuk bertemu dengan Simurgh, burung cahaya yang dikirim Tuhan ke bumi. Dalam upaya manusia menterjemahkan ayat-ayat Tuhan.
20. Saru Siku, Otto Sukatno CR., sutradara A. Muchlis HM., Festival Teater Mahasiswa Nasional Institut Seni Indonesia, Yogyakarta Februari 1995. FKY VII, Purna Budaya TBY, Juni 1995.
Kisah tentang seorang ibu yang terkena musibah dan bencana, kemudian ditolong oleh anaknya yang taat beribadah.
21. Dilarang Mencintai Bunga-bunga, adaptasi novel Kuntowijaya, sutradara Fauzan Rafiq dan Tommy Faisal Alim, FKY VIII, Purna Budaya TBY, Juni 1996.
Seorang kakek yang berusaha mengajarkan kepada cucunya tentang nilai-nilai keagamaan. Bahwa ibadah bukan hanya dzikir dan do’a, tetapi juga harus direliasasikan dalam bentuk amalan yang berhubungan dengan ghidup bermasyarakat.
22. Tok Tok Tok, Ikranegara, sutradara Fauzan Rafiq, Yogyakarta, 28-29 Desember 1996.
Perjuangan seorang habib dalam memberantas penindasan dan membela kaum yang lemah.
23. …dan anak-anak pun bertaring, naskah/sutradara Kajie Habeb, Yogyakarta, 27-28 Desember 1997.
Tokoh symbolis penguasa yang lalim, melahirkan keturunan yang lebih lalim, sampai akhirnya kehancuran melanda keluarga lalim tersebut.
24. Berdiri di Tengah Hujan, naskah/sutradara Hamdy Salad, FKY X, Purna Budaya Yogyakarta, 29 Juli 1998.
Kisah seorang ibu yang diambil dari kisah Lithah al-Hamka yang merindukan seorang anak yang sholeh, namun dalam kenyataannya anak tersebut tersesat dan terseret oleh arus kemunafikan dan kemaksiatan.
25. Kaki Langit, naskah/sutradara Edeng Syamsul Ma’arif, Yogyakarta, 18-19 Juni 1999. FKY XI, Purna Budaya Yogyakarta, 26 Juli 1999.
Wasiat kebaikan seorang kakek terhadap cucunya, tetapi kemudian disalah arti dan gunakan untuk berbuat kejahatan.
26. Di Atas Bangku Kosong, Kajey Habeb dan Edeng Syamsul Ma’arif, sutradara Kajey Habeb, Societet Militer Yogyakarta, 27-28 Mei 2000. Rara Santang Cirebon, 24 Juni 2000. Teater Arena TBS Solo, 5 Juli 2000.
Kelaliman seorang penguasa yang kemudian terpuruk oleh kelalimannya sendiri dalam memperebutkan kekuasaan.
27. Hingga Perbatasan Hari, naskah/sutradara Kajey Habeb, Purna Budaya Yogyakarta, 15-16 Oktober 2001. Rara Santang Cirebon, 27-28 Oktober 2001
Aktualisasi dari kisah ashabul Kahfi. Pertentangan antara keimanan danm mterialisme serta ateisme.
28. TOGH OUT (Orang-orang Penggali Parit), naskah/sutradara Hamdy Salad, Purna Budaya Yogyakarta, 26-27 September 2003. Auditorium IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 10 Oktober 2003.
Perjuangan seorang pemuda dalam mempertahankan nilai-nilai kebenaran, meski kemudian harus berhadapan dengan penjara dan siksaan.
b) Pementasan Musik
Dalam proses kreatifnya, musik Teater ESKA yang dalam hal ini di bawah tanggung jawab Devisi Musik mengalami banyak perubahan, baik secara proses maupun dalam pilihan pemanggungannya. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kualitas anggota, iklim berkesenian pada saat itu, baik dalam komunitas ESKA maupun dalam komunitas kesenian secara umum.
1. El-Kendor 1981
2. Anak Cucu Adam 1984
3. Keroncong Kreatif 1985
4. Konser Rakyat 1985
5. ESKA Rock Band 1987-1998
6. Suluk 1994
7. Busang FKY IX 1997
8. Suluk II 1998
c) Pementasan Tadarus Puisi
25)
Sejak tahun 80-an Teater ESKA dalam hal ini Devisi Sastra, kerap menggelar acara pembacaan puisi. Baik yang bersifat rutin maupun yang bersifat eksidental (dalam rangka). Bentuk pembacaannya hanyalah seperti pembacaan puisi pada umumnya, yang menekankan pada naskah dan cara pembacaan yang baik.
Setelah mengikuti konfrensi sastra yang diadakan di Jakarta, Devisi Sastra termotivasi untuk membuat sebuah format pembacaan puisi dalam sebuah pementasan yang menarik, artinya tersentuh oleh estetika dan konvens
i pemanggungan. Dan dapat dijadikan media penyampaian pesan moral dan bersifat reflektif.
Kalaupun kemudian Tadarus Puisi dilaksanakan pada bulan Ramadahan, hanyalah masalah pemilihan waktu yang dianggap tepat. Karena pada bulan Ramadhan inilah dianggap perlu menyuguhkan sebuah pementasan yang bersifat relegius dan penuh pesan moral, sarana bermuhasabah dan menggali idiom/simbol-simbol atau praktek yang berkembang dalam masyarakat.
Konsep dasar Tadarus Puisi sendiri adalah kata darasa yang berarti belajar, berbeda dari konsep tadarus yang selama ini berkembang pada sebagian golongan masayarakat. Dengan penekanan pada pembelajaran / kajian terhadap teks-teks naskah yang dipentaskan.
Teks-teks naskah tadarus puisi sendiri pada awalnya diambil dari karya-karya anggota dan karya-karya umum lainnya. Kemudian meningkat pada puis-puisi karya penyair sufi seperti Jalaluddin Rumi dan Muhammad Iqbal, juga karya Jamaluddin at-Taar dan Nahjul Balaghoh karya Sayidina Ali ra.
Naskah-naskah itu sendiri ada yang berupa saduran murni ataupun adaptasi bebas. Bahkan ada juga naskah yang ditulis sendiri oleh anggota yang mengambil tema dari fenomena dan realitas sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Hingga tahun 2002 Tetaer Eska telah mementaskan Tadarus puisi sebanyak 11 kali, yaitu:
1. Tadarus Puisi 1987
2. Manusia di Depan Sang Rahman, 1988
3. Parlemen Syetan ,1990
4. Pengembara, 1991
5. Mutiara Nahjul Balaghoh, 1992
6. Do’a Luka Dunia, 1995
7. Puisi Iqbal dan Rumi, 1997
8. Keluk Gurindam, 1998
9. Kabar Dari Langit, 2000
10. Ziarah Abadi, 2001
11. Isyarat Jibril, 2002
Selain itu, khalayak sastra (terutama Yogayakarta) tak bisa berpaling begitu saja ketika hendak berbicara tentang sejarah sastra dikota ini. Banyak nama-nama yang merupakan elemen dan membawa Teater ESKA menempati ruang dalam sejarah tersebut. Buku-buku yang terlahir dari mata pena mereka tentu akan fakta konkrit bagi memperkokoh tradisi intelektual Teater ESKA.
26) Adapun karya-karya tersebut baik secara individual maupun secara kolektif tertuang dalam beberapa penerbitan sebagai berikut:
1. Nyayian Kampus 1982
2. Sebuah Kelahiran 1984
3. Sangkakala 1987
4. Kafilah Angin 1990
5. Museum 1991
6. Alif Laam Miim 1992
7. Aurora Cinta 1993
8. Risalah Badai 1996
b) Buku-buku hasil karya anggota
28)
1. Bachrum Bunyamin (Kepengurusan Sunu Andy Purwanto, 1983-1984):
Mata-mata di Pesta Purnama, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1999)
Anto Anak Yang Pandai, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1999)
Pengembara Dari Hutan Ganggong, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1999)
2. Hamdy Salad (Kepengurusan Hamdy Salad, 1984-1988)
Agama Seni: Refleksi Teologis Dalam Ruang Estetik, (Yogyakarta: Yayasan Semesta, 2000)
Novel Pak Kanjeng (Adaptasi naskah drama Pak Kanjeng karya Emha Ainun Najib), (Yogyakarta: Zaituna, 2000)
Sebuah Kampung di Pedalaman Waktu, (Yogyakarta: Bentang, 2001)
Rube’iyet Sebiji Sawi, (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2004)
Sebutir di Tepi Jurang (Yogyakarta: Jendela, 2004)
Sajadah di Pipi Mawar (Yogyakarta: InterBud, 2004)
3. Ahmad Syubbanuddin Alwy (Kepengurusan Hamdy Salad, 1984-1988)
Bentangan Sunyi, (Bandung: Forum Sastra Bandung, 1995)
4. Abidah el-Khaleqy (Kepengurusan Aly D. Musyrifa, 1988-1991)
Ibuku Laut Berkobar, (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1998)
Perempuan Berkalung Surban, (Yogyakarta: Yayasan Kesejahteraan Fatayat, 2001)
Menari di atas Gunting, (Yogyakarta: , 2001)
Atas Singgasana, (Yogyakarta: Gama Media, 2002)
Geni Jora, (Yogyakarta: Mahatari, 2004)
5. Ulfatin CH (Kepengurusan Aly D. Musyrifa, 1988-1991)
Selembar Daun Jati, (Yogyakarta: Pustaka Firdaus, 1996)
6. Otto Sukatno CR., (Kepengurusan Otto Sukatno CR., 1991-1994)
Mahabbah Cinta, (Yogayakarta: Bentang, 1996)
Para mayoga (Ronggo Warsito), (Yogyakarta: Bentang, 2000)
Kitab Makrifat, (Yogyakarta: Bentang, 2002)
Seks Para Pangeran: Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Jawa, (Yogyakarta: Bentang, 2002)
Makrifat Cinta, (Yogayakarta: Penerbit Jendela, 2003)
Dieng Poros Dunia: Sebuah Jejak Surga Yang Hilang, (IRCISoD Yogyakarta, Februari 2004)
Pesan Buat Nurani: Misteri Sepotong Sepi menuju Puncak Cahaya (Kumpulan cerpen Religi), (Yogyakarta: Mitra Pustaka, Juni 2004
7. Mathori A. Elwa. (Kepengurusan Otto Sukatno CR., 1991-1994)
Yang Maha Syahwat, (Yogyakarta: LKiS, 1997)
Rajah Negeri Istighfar, (Yogyakarta: yayasan Aksara Indonesia, 2000)
8. Joni Ariadinata (Kepengurusan Otto Sukatno CR., 1991-1994)
Kali Mati, (Yogyakarta: Bentang, 1999)
Air Kuldera, (Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2000)
Kastil Angin Menderu, (Yogyakarta: Indonesia Tera, 2000)
9. Kuswaedi Syafi’ie (Kepengurusan A. Muchlis, 1994-1997)
Tarian Mabuk Allah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999)
Memanjat Bukit Cahaya, (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2000)
Pohon Sidrah, (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002)
10. Zaenal Arifin Thoha (Kepengurusan A. Muchlis, 1994-1997)
Eksotisme Seni Budaya Islam, (Yogyakarta: Buku Laela, 2002
11. Wahyudin (Kepengurusan A. Muchlis, 1994-1997)
Mampir Mas, Spiritualitas dan Dunia Batin Perempuan Pelacur, (Yogyakarta: Pustaka Utama, 2001)
Surat Cinta Pupa, (Yogyakarta: Buku Laela, 2002)
Bidadari dari Kalkuta, (Yogyakarta: Bentang, 2004)
12. Faaizi L. Kaelan (Kepengurusan Edeng Syamsul Maa’arif, 1997-1999)
18 + (Antologi Seratus Puisi Puisi), (Yogyakarta: Diva Press, 2003)
13. Marhalim Zaini (Kepengurusan Edeng Syamsul Maa’arif, 1997-1999)
Kumpulan Sajak: Segantang Bintang Sepasang Bulan, (Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau, 2003)
Di bawah Payung Tragedi: Kumpulan Naskah Teater (Pekanbaru: AKMR Press, 2003)
Langgam Negeri Puisi: Kumpulan Puisi (Pekanbaru: Dewan Kesenian Bengkalis & Interbudaya, 2004)
Tubuh Teater: Kumpulan Essai, (Pekanbaru: Dewan Kebudayaan Bengkalis & Interbudaya, 2004)