PENGARUH KOMPOS ECENG GONDOK (Eichornia crassipes solm) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS
TANAMAN BAYAM CABUT (Amaranthus tricolor L)
SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER BELAJAR BIOLOGI DI MA
Oleh Team www.plasawebs.com
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Lahan pertanian semakin berkurang kesuburannya. Hal tersebut dikarenakan pengusahaan dan penggunaan lahan yang terus menerus tanpa diikuti upaya pemulihan kesuburannya. Pengusahaan lahan yang terus menerus akan menurunkan kandungan bahan organik karena bahan-bahan organik yang ada di dalam tanah diserap oleh tanaman. Agar lahan pertanian tetap subur diperlukan penambahan bahan organik ke dalam tanah untuk menggantikan bahan-bahan organik yang diserap oleh tanaman.
Sumber bahan organik biasanya diperoleh dari pupuk kandang, namun jumlah yang diberikan tidak sesuai dengan jumlah kebutuhan yang ada. Masalah ini terjadi karena petani sudah jarang memelihara ternak. Selain itu, sumber bahan organik harganya juga semakin meningkat. Adanya masalah yang demikian perlu dicari alternatif solusinya, antara lain dengan menemukan sumber bahan organik pengganti pupuk kandang.
Eceng gondok (Eichornia crassipes Solm) merupakan jenis gulma air yang sangat cepat tumbuh dan berkembang biak. Tumbuhan ini mempunyai daya adaptasi terhadap lingkungan baru yang sangat besar, sehingga sering merupakan gulma di berbagai tempat dan mengganggu saluran pengairan atau irigasi yang sulit untuk dikendalikan. Tanaman ini dapat mempercepat pendangkalan, menyumbat saluran irigasi, memperbesar kehilangan air melalui proses evaporasi, transpirasi, mempersulit transportasi perairan, menurunkan hasil perikanan atupun berupa gangguan langsung dan tidak langsung lainnya terhadap kesehatan manusia serta menurunkan nilai estetika.1
Eceng gondok banyak menimbulkan kerugian. Namun selain kerugian yang ditimbulkan, ada potensi yang menguntungkan, misalnya sebagai sumber pupuk organik, karena tidak ada satupun ciptaan Allah yang tidak bermanfaat. Sesuai dengan firman Allah dalam surat Ali-Imron 191
Artinya “Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia- sia”
Jadi perlu dilakukan penelitian atau dikaji tentang kemungkinan pemanfaatan eceng gondok ini sebagai bahan kompos.
Keberhasilan pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan kompos akan memberikan keuntungan ganda. Selain dapat diperoleh kompos yang dapat mengembalikan kesuburan tanah, juga dapat mengurangi pencemaran yang diakibatkan oleh eceng gondok.
Pemanfaatan eceng gondok dengan cara pengomposan belum biasa dilakukan oleh petani. Dalam penelitian ini, kompos eceng gondok dicoba diteliti penggunaannya pada tanaman bayam cabut. Hal ini mengingat karena tanaman bayam cabut (Amaranthus tricolor L) tidak menuntut persyaratan tumbuh yang sulit, asalkan kondisi tanah subur, penyiraman teratur dan saluran drainase lancar. Tanaman ini sangat toleran terhadap keadaan yang tidak menguntungkan sekalipun. Selain itu tanaman ini berumur pendek, sehingga pengaruh dari kompos eceng gondok dapat cepat terlihat.2
Dengan meningkatnya wawasan masyarakat tentang kebutuhan pangan, maka masyarakat cenderung untuk mengkonsumsi sayuran yang bebas atau tidak terkontaminasi oleh zat-zat yang merugikan tubuh. Untuk itu pupuk organik atau kompos dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan produksi sayuran.
Proses belajar mengajar sains termasuk biologi, merupakan perwujudan interaksi antara subjek (siswa), objek (alam), yang terdiri dari benda dan kejadian alam, proses dan produk.3 Dari pengertian tersebut dapat diartikan bahwa bila seseorang belajar sains, maka orang itu diharapkan dapat melakukan kegiatan. Agar dapat melakukan kegiatan tersebut diperlukan keterampilan proses. Keterampilan proses ini meliputi keterampilan mengamati dengan seluruh indra, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan dengan benar, mengajukan pertanyaan, menggolongkan, menafsirkan data dan mengkomunikasikan hasil temuan secara beragam, menggali dan memilih informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari.4 Untuk itu diperlukan sumber belajar agar memungkinkan siswa melakukan kegiatan yang dituntut dalam sains tersebut. Adapun sumber belajar ini dapat dikaji dan digali dari alam ataupun lingkungan sekitar
Penggunaan sumber belajar secara tepat dalam kegiatan belajar mengajar diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang baik kepada siswa sehingga mampu mengembangkan potensi kognitif dan afektif siswa.
Hasil penelitian ini mencakup proses dan produk penelitian yang diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar bagi siswa. Proses penelitian menyangkut langkah-langkah atau prosedur ilmiah yang dilakukan dalam kegiatan penelitian. Sedang produk penelitian menyangkut fakta-fakta yang kemudian dapat digeneralisasikan menjadi konsep-konsep. Dalam pembelajaran biologi khususnya menurut tuntutan kurikulum 2004 tidak hanya mementingkan produk saja, tetapi siswa diharapkan mampu memperoleh keterampilan proses dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh karenanya kajian hasil penelitian ini juga dirasakan urgensinya.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan permasalah dalam skripsi ini yaitu :
1. Apakah kompos eceng gondok dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman bayam cabut?
2. Apakah kompos eceng gondok dapat meningkatkan produktivitas tanaman bayam cabut ?
3. Apakah kompos eceng gondok dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti pupuk kandang ?
4. Apakah hasil penelitian ini dapat dikaji sebagai sumber belajar biologi di MA pada pokok bahasan pertumbuhan dan perkembangan?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penulisan skripsi ini yaitu untuk :
1. Mengetahui apakah kompos eceng gondok dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman bayam cabut.
2. Mengetahui apakah kompos eceng gondok dapat meningkatkan produksi tanaman bayam cabut.
3. Mengetahui apakah kompos eceng gondok dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti pupuk kandang.
4. Untuk mengetahui hasil penelitian ini dapat dikaji sebagai sumber belajar biologi di MA pada pokok bahasan Pertumbuhan dan Perkembangan.
D. Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah :
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif sumber kompos yang dapat diterapkan dalam bidang pertanian.
2. Dapat memberikan informasi bagi guru tentang alternatif sumber belajar biologi.
E. Penelitian Yang Relevan
Penelitian yang rerlevan pernah dilakukan oleh Haris Kartika Rini yang berjudul “Pengaruh Kompos Eceng gondok dan Kompos Kayu ApuDikombinasikan dengan Tepung Lahar terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung Sebagai Alternatif Sumber Belajar Biologi di SMU” dan penelitian yang dilakukan oleh Suharta yang berjudul “Kandungan Protein dan Kemampuan Penyematan N Bintil Akar tanaman kedelai yang dipupuk dengan kompos eceng gondok dan Hubungannya dengan Daya Hasil Panen”
F. BATASAN ISTILAH
Untuk memudahkan pembahasan dalam skripsi ini maka penulis membuat batasan-batasan istilah yaitu :
1. Pertumbuhan
Pertumbuhan didefinisikan sebagai proses bertambahnya ukuran dan volume serta jumlah sel yang bersifat irreversible (tidak dapat balik). Adapun parameter pertumbuhan untuk penelitian ini yaitu bertambahnya panjang batang dan bertambahnya jumlah daun bayam cabut.
2. Produktivitas
Produktivitas dalam penelitian ini didefinisikan sebagai hasil dari proses pertumbuhan dan perkembangan yang biasa dipanen dan dapat diukur serta dinyatakan secara kuantitatif. Adapun parameter yang digunakan yaitu berat basah dan berat kering bayam cabut setelah panen.
3. Kompos eceng gondok
Yaitu kompos yang dibuat dari gulma eceng gondok dengan campuran kotoran lembu.
4. Sumber belajar
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan, dalam proses belajar mengajar.5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Biologi
1. Tanaman Eceng gondok (Eichornia crassipes solm )
Sistematika tanaman eceng gondok adalah :
Divisio : Embryophytasi phonogama
Klas : Monocotyledoneae
Ordo : Farinosae
Familia : Pontederiaceae
Genus : Eichornia
Spesies : Eichornia crassipes solm1
Eceng gondok termasuk tumbuhan perennial dan merupakan tumbuhan yang dapat mengapung bebas bila air dalam dan berakar di dasar bila air dangkal. Tumbuhan tersebut berkembang biak dengan stolon (vegetatif) dan juga secara generatif, tiap tahun berbunga, dan setelah 20 hari terjadi penyerbukan, buah masak, lepas dan pecah, biji masuk ke dasar air. Karangan bunga berbentuk bulir, bertangkai panjang, dan terdapat 10-35 bunga; tangkai dengan 2 daun pelindung yang duduknya sangat dekat, yang terbawah dengan helaian kecil dan pelepah yang berbentuk tabung.2
Morfologi dari tanaman eceng gondok adalah sebagai berikut :
Gambar 1
Morfologi eceng gondok (Eichornia crassipes Solm)
Keterangan : a. Akar, b. Tangkai daun, c. Daun, d. Bunga, e. Tangkai bunga
Tumbuhan eceng gondok masuk dan cepat tumbuh di Indonesia pada tahun 1894.3 Adanya tumbuhan ini dalam suatu area perairan akan mengganggu lalu lintas air, mengurangi jumlah dan kualitas air, menimbulkan pendangkalan perairan yang dapat menurunkan produksi ikan.4
Adanya beberapa masalah dan gangguan yang merugikan manusia yang ditimbulkan oleh eceng gondok, sangat dirasa perlu adanya suatu pengendalian dan teknik pengolahan yang memadai. Salah satu usaha untuk pengendalian eceng gondok adalah pemanfaatan eceng gondok agar menjadi sumber daya alam berguna.
Hasil penelitian yang dilakukan di India, menunjukkan bahwa eceng gondok yang masih segar mengandung 95,5 % air; 3,5 % bahan organik; 0,04 % nitrogen; 1 % abu; 0,06 % fosfor sebagai P2
O5 dan 0,20 % kalium sebagai K2O. Lebih lanjut dikemukakan pula bahwa percobaan analisis kimia tumbuhan eceng gondok atas dasar bahan kering menghasilkan 75,8 % bahan organik; 1,5 % nitrogen; dan 24,2 % abu. Analisis terhadap abu yang dilakukan menunjukkan 7.0 % fosfor sebagai P2O5; 28,7 % kalium sebagai K2O; 1,8 % natrium sebagai Na2O; 12,8 % kalsium sebagai CaO dan 21,0 % khlorida CCL.5
O5 dan 0,20 % kalium sebagai K2O. Lebih lanjut dikemukakan pula bahwa percobaan analisis kimia tumbuhan eceng gondok atas dasar bahan kering menghasilkan 75,8 % bahan organik; 1,5 % nitrogen; dan 24,2 % abu. Analisis terhadap abu yang dilakukan menunjukkan 7.0 % fosfor sebagai P2O5; 28,7 % kalium sebagai K2O; 1,8 % natrium sebagai Na2O; 12,8 % kalsium sebagai CaO dan 21,0 % khlorida CCL.5
2. Eceng gondok sebagai bahan kompos
Penggunaan eceng gondok sebagai bahan kompos diharapkan dapat membawa perubahan yang lebih baik bagi dunia pertanian. Tujuan pemberian kompos pada suatu lahan antara lain untuk memperkaya bahan makanan bagi tanaman dan memperbaiki sifat fisik tanah akibat pencucian. Tujuan tersebut akan terpenuhi jika bahan yang akan dikomposkan mengandung unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman.
Hasil analisis kompos eceng gondok atas dasar bahan kering adalah 2,05 % nitrogen; nisbah karbon (C) dan nitrogen (N) adalah 13:1 ; 1,1 % fosfor sebagai P2O5; 2,5 % kalium sebagai K2O ; 3,9 % Ca sebagai C2O.6
Kompos dibuat dengan cara membusukkan bahan sisa tumbuhan atau hewan dalam suatu tumpukan. Pengertian pengomposan menurut Murbandono adalah menumpukkan bahan-bahan organis dan membiarkan terurai menjadi bahan-bahan yang mempunyai perbandingan C/N yang rendah atau mendekati C/N tanah sebelum digunakan sebagai pupuk.7 Jadi dari pengertian itu dapat dikatakan bahwa prosesnya berlangsung pada keadaan yang diatur sehingga akan menghasilkan suatu produk yang berguna bagi pertanian. Pada pengomposan proses peruraian oleh kegiatan mikroorganisme ditingkatkan dengan cara mengusahakan lingkungan yang cocok untuk perbanyakan mikroorganismenya serta kegiatannya.
Bahan organik yang telah terkomposkan dengan baik bukan hanya memperkaya bahan makanan tetapi terutama berperan besar terhadap perbaikan sifat-sifat tanah yaitu :
a) Mempertinggi kemampuan penampungan air, sehingga tanah dapat lebih banyak menyediakan air bagi tanaman.
b) Memperbaiki drainage dan tata udara tanah
c) Meningkatkan pengaruh pemupukan dari pupuk-pupuk buatan.
d) Mempertinggi daya ikat tanah terhadap zat hara sehingga tidak mudah larut oleh pengairan atau air hujan.8
Pada pengomposan, proses penguraian bahan oleh kegiatan mikroorganisme ditingkatkan dengan cara mengusahakan lingkungan yang cocok untuk memperbanyak mikroorganisme dan kegiatannya. Dengan meningkatnya mikroba dalam pengomposan akan mempercepat diperolehnya produk akhir dari pengomposan yang dilakukan. Untuk itulah faktor-faktor yang mempengaruhi selama proses pengomposan harus diperhatikan. Adapun faktor-faktor tersebut adalah :
a) Sifat fisik bahan.
Pada proses pengomposan akan berlangsung cepat jika substrat halus dan berukuran kecil. Ukuran yang kecil akan mudah didekomposisi oleh mikroorganisme yang berarti mempercepat pengomposan.9
b) Kandungan N dari bahan asalnya
Jasad-jasad renik yang menguraikan bahan pengomposan memerlukan senyawa N untuk perkembangannya. Untuk itulah pada pembuatan kompos perlu ditambahkan pupuk kandang atau pupuk buatan.10
c) Kelembaban
Kelembaban sangat berpengaruh selama proses pengomposan. Kelembaban tidak boleh terlalu rendah, karena itu dalam proses pengomposan perlu ditambahkan kapur atau abu dapur.11
d) Cukup mengandung air dan udara
Bila tumpukan kompos kurang mengandung air, tumpukan ini akan bercendawan. Hal ini akan sangat merugikan karena peruraian akan berlangsung lambat dan tidak sempurna. Sebaliknya bila terlalu banyak mengandung air, keadaannya berubah menjadi anaerob yang tidak menguntungkan bagi kehidupan jasad renik.12
Pada tahap akhir pengomposan akan dihasilkan bahan yang sudah stabil yang disebut sebagai kompos. Kompos yang matang akan ditandai dengan warna gelap, tidak berbau, struktur remah, berkonsentrasi gembur, serta tidak larut dalam air.13
3. Tanaman bayam cabut (Amaranthus tricolor L)
Sistematika tanaman bayam cabut adalah sebagai berikut :
Divisio : Spermatophyta
Sub divisio : Angiospermae
Classis : Dicotyledoneae
Familia : Amaranthaceae
Genus : Amaranthus
Spesies : Amaranthus tricolor L
Bentuk tanaman bayam cabut adalah terna (perdu), tinggi tanaman dapat mencapai 1,5-2 meter, berumur semusim atau lebih. Sistem perakaran menyebar dangkal pada kedalaman antara 20-40 cm dan berakar tunggang.14
Tanaman bayam mempunyai daun berbentuk bulat telur dengan ujung agak meruncing serta urat-urat daun kelihatan jelas.15 Bayam banyak mengandung vitamin dan garam-garam mineral penting yang diperlukan tubuh, seperti dapat 