|
METODE PENGAJARAN BACA AL-QUR’AN DI AN-NUUR FOUNDATION JOGJAKARTA
(Dalam Perspektif Pengajaran Membaca Permulaan Bahasa Arab)
|
Oleh Team www.plasawebs.com
BAB I
PENDAHULUAN
A. Penegasan Masalah
Untuk memudahkan dalam memahami judul skripsi “Metode Pengajaran Baca Al-Qur’an di An-Nuur Foundation Jogjakarta (Dalam Perspektif Pengajaran Membaca Permulan Bahasa Arab) penulis memberikan penegasan masalah sebagai berikut:
- Metode Pengajaran
Metode adalah jalan (cara) yang ditempuh oleh guru untuk menyampaikan materi pelajaran kepada murid[1] atau cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan,[2]sedangkan pengajaran adalah interaksi belajar-mengajar,[3] yaitu hubungan timbal balik antara guru (pengajar) dan anak (murid) yang menunjukan adanya hubungan yang bersifat educatif (mendidik), yang mana interaksi itu harus diarahkan pada suatu tujuan tertentu yang bersifat mendidik yaitu adanya perubahan tingkah laku anak didik kearah kedewasaan.[4]
|
Adapun maksud dari metode pengajaran disini adalah suatu cara yang ditempuh oleh guru dalam suatu proses interaksi belajar-mengajar dengan maksud agar tujuan pengajaran dapat tercapai.
2. Baca Al-Qur’an
Baca atau membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta di pergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis.[5] Sedangkan Al-Qur’an adalah kalam atau firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. yang membacanya merupakan suatu ibadah.[6]
Adapun maksud dari baca Al-Qu’ran disini adalah membaca huruf-huruf yang terdapat dalam Al-Qur’an (huruf Hijaiyah) serta sesuatu yang berkaitan dengannya seperti tanda baca dan tajwid.
3. An-Nuur Foundation Jogjakarta
An-Nuur Foundation Jogjakarta adalah suatu lembaga non formal yang bergerak dalam bidang pengajaran baca Al-Qur’an khusus dewasa atau orang tua yang dalam pengajarannya menggunakan suatu metode yang dinamakan dengan metode An-Nuur, yang termasuk metode pengajaran baca Al-Qur’an sistem cepat, karena hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk membuat seseorang bisa baca Al-Qur’an yaitu 2 jam. Adapun maksud dewasa disini adalah orang yang sudah bisa diajak berfikir secara analogi (minimal umur 15 tahun), sedangkan maksud orang tua disini adalah orang yang sudah berusia tua namun masih mempunyai kemampuan untuk membaca. An-Nuur Foundation Jogjakarta terletak di jalan Monjali No.80 Karangjati Wetan, Rt 05/45 Sinduadi, Sleman, Jogjakarta. [7]
4. Perspektif
Perspekitf adalah pengharapan, peninjauan, tinjauan, padang luas.[8] Adapun maksud perspektif disini adalah tinjauan.
5. Pengajaran Membaca Permulaan Bahasa Arab
Pengajaran membaca permulaan adalah pengajaran membaca yang bermaksud memberi kecakapan kepada para siswa untuk mengubah rangkaian-rangkaian huruf menjadi rangkaian-rangkaian bunyi yang bermakana atau pengajaran membaca yang mengutamakan pengajaran huruf dan rangkaiannya serta melancarkan teknik membaca,[9] pengajaran membaca permulaan disini akan dikhususkan pada pengajaran membaca huruf-huruf Arab (huruf Hijaiyah) serta sesuatu yang terkait dengannya yaitu tanda baca Arab dan tajwid .
Berdasarkan pada penegasan istilah tersebut dapat dipahami bahwa maksud dari judul skripsi ini adalah meneliti tentang metode pengajaran baca Al-Qur’an yang diterapkan di An-Nuur Foundation Jogjakarta dalam tinjauan pengajaran membaca permulaan bahasa Arab.
B. Latar Belakang Penelitian
Dalam mempelajari bahasa asing termasuk bahasa Arab dikenal istilah ketrampilan berhahasa yang meliputi berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis.[10] Dalam membaca disana terdapat dua macam membaca yaitu membaca permulaan dan membaca lanjut
, perbedan diantara keduanya terletak pada maksud atau tujuan pengajaran membacanya, dalam pengajaran membaca permulaan, tujuannya adalah memberikan kecakapan kepada para siswa untuk mengubah rangkaian-rangkaian huruf menjadi rangkaian-rangkaian bunyi bermakna atau pengajaran yang menekankan pada pengajaran huruf dan rangkaiannya serta melancarkan teknik membaca, sedangkan pada membaca lanjut tujuannya adalah melatih anak-anak menangkap pikiran dan perasaan orang lain yang dilahirkan dengan bahasa tulisan dengan tepat dan teratur. [11]
, perbedan diantara keduanya terletak pada maksud atau tujuan pengajaran membacanya, dalam pengajaran membaca permulaan, tujuannya adalah memberikan kecakapan kepada para siswa untuk mengubah rangkaian-rangkaian huruf menjadi rangkaian-rangkaian bunyi bermakna atau pengajaran yang menekankan pada pengajaran huruf dan rangkaiannya serta melancarkan teknik membaca, sedangkan pada membaca lanjut tujuannya adalah melatih anak-anak menangkap pikiran dan perasaan orang lain yang dilahirkan dengan bahasa tulisan dengan tepat dan teratur. [11]
Seseorang yang ingin bisa membaca bahasa Arab maka dia harus terlebih dahulu belajar membaca permulaan bahasa Arab (membaca huruf-huruf Arab atau huruf Hijaiyah).
Di Indonesia, pengajaran membaca permulan bahasa Arab itu biasanya dilakukan melalui sistem ngaji atau belajar membaca AL-Qur’an di masjid atau di rumah, sehingga tatkala mereka dihadapkan pada pelajaran bahasa Arab di sekolah mereka sudah sedikit banyak mengenal tentang huruf-huruf Arab, dan keadaan yang seperti ini sangat membantu sekali bagi guru bahasa Arab.
Belajar membaca permulaan bahasa Arab yang dilakukan dengan sistem ngaji ini biasanya dilakukan dalam waktu yang relatif lama bahkan terkadang sampai bertahun-tahun, keadaan yang seperti ini bagi kita sudah dianggap suatu hal yang wajar mengingat bahwa belajar huruf-huruf Arab itu adalah suatu hal yang sulit karena bahasa Arab adalah termasuk bahasa asing yang mempunyai bentuk serta bunyi yang berbeda dengan bahasa Indonesia, selain dari itu untuk mempelajari tanda baca atau ilmu tajwidnya saja di perlukan waktu yang tidak sedikit.
Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk belajar membaca permulaan bahasa Arab terkadang menimbulkan rasa malas bagi orang yang akan mempelajarinya, terlebih-lebih apabila yang belajar itu orang dewasa atau orang tua, salah satu penyebabnya adalah karena mereka telah tersibukaan oleh berbagai hal yang menyangkut kehidupan mereka sehingga tak ada waktu bagi mereka jika harus terus- menerus belajar membaca permulaan bahasa Arab.
Karena huruf Arab adalah huruf Al-Qur’an maka orang yang tidak bisa membaca huruf Arab secara otomatis dia tidak bisa membaca Al-Qur’an, kebanyakan orang dewasa atau orang tua akan merasa malu apabila dirinya akan belajar baca Al-Quran, hal ini dikarenakan mereka merasa sudah terlambat, namun walaupun begitu mereka sebenarnya juga ingin belajar membaca Al-Quran, karena Al-Quran adalah merupakan pedoman hidup atau kitab suci mereka sebagai orang islam.
Dalam dunia pendidikan ternyata banyak pelajar atau mahasiswa yang belum bisa membaca permulaan bahasa Arab, padahal terkadang mereka tidak bisa terlepas dari hal itu karena tuntutan akademik, namun dalam benak mereka telah terbanyang bahwa belajar membaca permulaan bahasa Arab itu sulit terlebih-lebih jika dilakukan dalam usia dewasa atau orang tua, sehingga banyak dari mereka yang merasa putus asa untuk bisa membaca pemulaan bahasa Arab.
Berdasar pada kenyataan yang seperti itu, penulis merasa tertarik ketika mendengar ada suatu metode pengajaran baca Al-Quran yang dinamakan metode An-Nuur, sebab menurut penemunya yaitu DR H.M Rosyady S.Ag, MM, MBA bahwa dengan mengunakan metode An-Nuur seseorang akan bisa membaca Al-Qur’an dalam waktu yang singkat yaitu 2 jam.[12]
Melihat kemudahan dan kecepatan yang ditawarkan oleh metode An-Nuur dalam pengajaran membaca Al-Qur’an, maka penulis ingin mengkajinya dan mencoba mengkaitkannya dengan salah satu ketrampilan berbahasa yaitu membaca, khususnya membaca permulaan bahasa Arab, ini karena disana penulis melihat adanya kesamaan materi yang akan disampaikan yaitu huruf hijaiyah, tanda baca Arab dan tajwid.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana penerapan metode An-Nuur dalam pengajaran baca Al-Qur’an di An-Nuur Foundation Jogjakarta (dalam perspektif pengajaran membaca permulaan bahasa Arab) ?
2. Bagaimana hasil yang dicapai ketika menggunakan metode An-Nuur dalam pengajaran baca Al-Qur’an di An-Nuur Foundation Jogjakarta (dalam perspektif pengajaran membaca permulaan bahasa Arab) ?
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui metode apa yang digunakan serta materi apa yang disampaikan dalam metode An-Nuur dalam pengajaran baca Al-Qur’an di An-Nuur Foundation Jogjakarta, sehingga nantinya dapat dijadikan tambahan pengetahuan dalam mengajarkan membaca permulaan bahasa Arab.
b. Untuk mengetahui hasil yang dicapai ketika menggunakan metode An-Nuur dalam pengajaran baca Al-Qur’an di An-Nuur Foundation Jogjakarta.
2. Kegunaan Penelitian
a. Memberikan informasi bahwa belajar baca Al-Qur’an atau belajar membaca bahasa Arab itu bisa dilakukan dengan mudah dan dalam waktu yang rela
tif singkat.
tif singkat.
b. Untuk memberi semangat kepada umat Islam Indonesia untuk belajar baca Al-Qur’an atau belajar membaca bahasa Arab.
c. Dengan adanya metode yang bisa mempermudah dan mempercepat dalam belajar baca Al-Qur’an semoga dapat mengurangi buta huruf terhadap Al-Qur’an yang berbahasa Arab.
d. Semoga dapat dijadikan tambahan pengetahuan khususnya bagi para pengajar bahasa Arab, umumnya bagi umat Islam semuanya.
E. Metode Penelitian
1. Sumber data
Yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data dapat diperoleh.[13] Adapun yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah berupa: person, place dan paper.
a. Person atau sumber data berupa orang atau sumber data yang memberikan data melalui wawancara atau jawaban tertulis melalui angket.[14] Yang meliputi :
1) Pemimpin An-Nuur Foundation Jogjakarta yaitu Bpk. Kamaludin S.Ag.
2) Guru-guru atau karyawan yang terdapat di An-Nuur Foundation Jogjakarta.
3) Peserta pelatihan
4) Place atau sumber data berupa tempat atau sumber data yang menyajikan tampilan berupa keadaan diam atau bergerak.[15] Yang diam berupa: ruangan dan kelengkapan alat yang digunakan dalam proses pengajaran, sedangkan yang bergerak berupa aktivitas belajar-mengajar itu sendiri.
b. Paper, yaitu sumber data yang menyajikan tanda-tanda berupa huruf, angka atau gambar atau simbol-simbol lainnya,[16] yaitu berupa dokumen-dokumen yang dimiliki oleh lembaga An-Nuur Foundation Jogjakarta.
Selain dari itu penulis juga menggunakan penelitian populasi sebagai sumber data. Penelitian populasi adalah keseluruhan subyek penelitian,[17] maksudnya penulis akan meneliti semua peserta yang mengikuti pelatihan sehari dalam pengajaran baca Al-Qur’an yang dilaksanakan oleh An-Nuur foundation Jogjakarta, ini karena peserta yang biasanya mengikuti pelatihan tersebut tidak lebih dari 100 orang,[18] sedangkan apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semuanya.[19]
2. Jenis Penelitian.
Jika ditinjau dari tempatnya, penelitian ini adalah penelitian lapangan atau kancah.[20] Sedang jika di tinjau dari hadirnya variabel, penelitian ini adalah penelitian deskriptif, karena penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan dengan menjelaskan atau menggambarkan variabel masa lalu dan sekarang (sedang terjadi).[21] Variabel adalah hal-hal yang menjadi objek penelitian, yang ditatap (di jinggleng-jawa) dalam suatu kegiatan penelitian (points to be noticed) yang menunjukan variasi, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.[22]
3. Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data-data yang diperlukan akan digunakan metode-metode sebagai berikut:
a. Metode Observasi
Metode observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.[23]
Jenis observasi yang dilakukan adalah observasi partisipatif (participa
nt observation) yaitu observasi atau pengamatan yang observer (peneliti) melibatkan diri di tengah-tengah observe (yang sedang diteliti).[24] Metode observasi ini digunakan untuk mengamati berlangsungnya proses belajar mengajar Al-Qur’an yang dilaksanakan oleh An-Nuur Foundation Jogjakarta dan hasil yang dicapainya.
nt observation) yaitu observasi atau pengamatan yang observer (peneliti) melibatkan diri di tengah-tengah observe (yang sedang diteliti).[24] Metode observasi ini digunakan untuk mengamati berlangsungnya proses belajar mengajar Al-Qur’an yang dilaksanakan oleh An-Nuur Foundation Jogjakarta dan hasil yang dicapainya.
Adapun pedoman observasinya berbentuk bebas (pedoman yang tidak perlu ada jawaban, tetapi mencatat apa yang tampak,[25] dalam observasi ini juga akan digunakan alat perekam.
b. Metode Wawancara
Metode wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan.[26]
Jenis interview yang digunakan adalah interview bebas terpimpin yaitu interview yang pewawancaranya membaca pedoman yang hanya merupakan garis besarnya saja.[27] Metode wawancara ini digunakan untuk mencari data tentang metode An-Nuur itu sendiri.
c. Metode Dokumentasi
Adalah mencari data-data mengenai variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, notulen rapat dan lain sebagainya.[28] Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang gambaran umum lembaga An-Nuur Foundation Jogjakarta yang meliputi letak geografis, sejarah singkat berdirinya, dan susunan organisasinya.
d. Metode Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.[29]
Jenis tes yang digunakan adalah tes prestasi atau achievment test yaitu tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu,[30] tes ini berupa tes lisan. Tes ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang kemampuan yang dimiliki oleh peserta setelah mereka belajar baca Al Qur’an di An-Nuur Foundation Jogjakarta.
4. Metode Analisis Data
Menganalisis dapat diartikan dengan menguraikan atau memisah-misahkan, jadi menganalisis data mengandung arti mengurai data, menjelaskan data sehingga dari data tersbut pada akhirnya dapat ditarik pengertian-pengertian serta kesimpulan-kesimpulan.[31]
Karena penelitian ini adalah penelitian deskriptif maka untuk menganalisis datanya, data itu diklasifikasikan menjadi dua kelompok data yaitu data kuantitatif yang berbentuk angka-angka dan data kualitatif yang dinyatakan dalam kata-kata atau simbol.[32]
Untuk menganalisis data yang bersifat kuantitatif maka digunakan rumus: